Kesehatan dalam Islam adalah perkara yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan saking pentingnya, kesehatan disandingkan dengan perkara keimanan sebagaimana sabda Rasul saw: “Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan disukai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Dalam Islam, penanganan masalah kesehatan dimulai dengan upaya preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan).
Pemenuhan kesehatan ini juga termasuk kebutuhan pokok yang harus dijamin pemenuhannya oleh Negara. Sebenarnya sistem kesehatan ini hanyalah salah satu bagian integral dari keseluruhan sistem kehidupan dalam Islam dimana penyelenggaraannya dilaksanakan oleh sebuah Negara yang unik yaitu Khilafah. Pelaksanaan sistem kesehatan yang unik ini telah berlangsung sejak masa Khilafah pertama yaitu masa Rasulullah saw lalu dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya.
Gratis bagi Semua Warga Negara
Pelayanan kesehatan dalam Islam memang diberikan secara cuma-cuma pada semua warga negara Khilafah, baik muslim ataupun non muslim dan tanpa memandang lagi ras, suku, maupun warna kulit. Pembiayaan yang gratis ini bisa berjalan karena seiringan dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam oleh Khilafah. Segala sumber daya alam yang berada di wilayah kaum muslim betul-betul dikelola oleh negara secara efektif lalu hasilnya dimasukkan ke dalam Baitul Mal. Bahkan terkadang pembiayaan kesehatan ini berasal dari hasil wakaf Khalifah (Kepala Negara) sendiri. Hal ini karena adanya pahala yang mengalir dalam wakaf sehingga mereka pun berlomba-lomba mewakafkan sebagian besar harta mereka. Pada masa itu, ada istilah Waqf Khida’ al-Maridh (wakaf mengubah persepsi pasien). Sebagai contoh pada masa Khilafah Abbasiyah, Saifuddin Qalawun (673 H/1284 M), penguasa pada masa itu mewakafkan hartanya untuk biaya tahunan rumah sakit al-Manshuri al-Kabir yang dibangun di Kairo. Bahkan pembayaran gaji karyawan rumah sakit ini juga dibayar dari wakaf khalifah.
Selain itu, pelayanan kesehatan yang diberikan dalam Islam juga berkualitas bahkan layak disebut high quality. Sebagaimana fungsi rumah sakit dalam Islam yaitu sebagai tempat layanan kesehatan, sehingga kontrol terhadap mutu pelayanan dilakukan secara ketat. Bahkan ada tim ahli yang diangkat Khalifah yang tugasnya khusus mengevaluasi isi catatan rekam medis pasien, pelayanan yang diperoleh pasien, makanan yang diberikan kepada pasien, atau apakah para dokter melaksanakan tugasnya secara sempurna. Hal ini memungkinkan rumah sakit selalu dalam kompetensi yang tinggi; baik itu secara teknis, sains/keilmuan, dan keadministrasian.
Lepas dari Intervensi Asing
Seorang khalifah dalam Islam diibaratkan layaknya perisai. Ia wajib melindungi keselamatan warga negaranya termasuk dalam pemenuhan kesehatan. Salah satu ancaman yang membahayakan keselamatan warganya ini berasal dari luar yang berupa kerjasama internasional. Untuk itu, Departemen Luar Negeri Khilafah memiliki peran yang sangat penting untuk perkara ini. Dalam hal ini, Negara wajib membatalkan segala konvensi internasional yang membentuk pemikiran di luar Islam. Selain itu, Negara juga harus melepaskan diri dari kebijakan-kebijakan lembaga-lembaga internasional seperti WHO, FAO, dan sejenisnya. Karena terbukti masa ini bahwa mereka hanya akan mencengkeram umat Islam dan menjajahnya.
Termasuk dalam bidang ekonomi, Negara juga harus berani memutuskan segala kerjasama yang bersifat intervensi asing yang berefek pada kebijakan pemerintah seperti: UU PMA (Penanaman Modal Asing, dll. Hal ini agar pengelolaan kekayaan alam negara Khilafah tidak jatuh ke tangan asing yang berakibat tidak sejahteranya hidup umat Khilafah karena dicurinya harta mereka.
Demikianlah sebagian gambaran kesejahteraan yang hanya akan diperoleh dalam naungan sistem Islam, Khilafah. Hanya saja hari ini, kita tak mampu merasakan itu karena masih dalam naungan sistem kufur. Untuk itu, saatnya turut bergerak mengembalikan kejayaan Islam itu! Wallahu a’lam.
Minggu, 18 November 2012
Senin, 05 November 2012
Sebuah Cerpen
BINGKISAN MUNGIL DALAM BAHANA TAKBIR
Aroma khas obat-obatan mulai terasa menyengat di ruangan itu. Beberapa petugas berseragam putih-putih tampak mondar-mandir menyita pandangan. Di depan sebuah loket tempat pengambilan obat, tampak seorang gadis tengah berdiri menunggu. Wajahnya biasa-biasa saja, tingginya juga rata-rata, kulitnya agak putih dan wajahnya bersih dari makhluk bernama ‘jerawat’. Tapi yang menarik perhatian adalah tubuhnya yang terbalut lengkap dengan busana sejenis gamis dan kerudung yang panjangnya hingga perut, serta tak luput pula kaos kaki. Dari tadi pandangan gadis itu tak lepas mengamati segala hal yang berada di sekitarnya. Dia sama sekali tak menyangka akan berada di tempat seperti ini lagi, tempat yang dulu amat familiar dengannya, tempat dimana orang-orang sakit dirawat di dalamnya.
“Rifdah, ayo pergi! Obatnya sudah ayah ambil,” ujar seorang bapak-bapak yang usianya hampir setengah baya membuyarkan lamunan gadis itu.
Gadis yang bernama Rifdah itu mengangguk dan mengikuti langkah Pak Absyar, ayahnya menuju ruangan yang di depannya tertera label “Intensif Unit Care” alias ICU.
Begitu masuk ke ruangan itu, Rifdah tertegun memandangi sosok renta yang teronggok tak berdaya di salah satu bangsal itu. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan berbagai peralatan medis yang terpasang dengan lengkap.
Pikiran Rifdah mulai berkelana ke hari kemarin, saat nenek Rahimah, neneknya yang amat disayanginya itu tiba-tiba terkena serangan tekanan darah tinggi. Dia yang saat itu tengah asyik menyapu di lantai dua rumahnya tak mendengar hiruk pikuk yang terjadi di bawah. Saat dia turun, dia kaget mendapati semua penghuni rumahnya sudah berkumpul di kamar depan, di kamar kakek dan neneknya. Lebih kaget lagi saat dia tiba di kamar itu, matanya seakan tak percaya dengan yang dilihatnya. Di sana, di samping kakeknya yang terbaring lumpuh karena stroke, terbaring pula neneknya yang sudah setengah sadar. Bibirnya kelu untuk berkata-kata ketika dia telah mengukur tekanan darah neneknya yang ternyata sangat tinggi, yakni 260 mmHg. Kondisi neneknya semakin memburuk ketika malamnya hingga pagi ini, sosok renta itu pun dilarikan ke rumah sakit umum yang berada di kota. Parahnya karena sudah dua hari di RS, tapi neneknya belum pernah sadarkan diri sama sekali.
Waktu kembali bergulir dan pagi hari pun menyapa. Pagi buta itu dimanfaatkan oleh Rifdah untuk berjalan-jalan di sekitar RS. Hitung-hitung sambil refreshing sejenak. Sebenarnya dia sedang mencari kamar kecil, dia ingin membasuh wajahnya agar lebih segar. Agak lama berkeliling, yang terpampang di hadapannya kini justru sebuah musholla mungil yang membuat damai hati bagi yang memandang. Dia pun segera ke tempat wudhu dan membasuh wajahnya. Rasa segar pun menyelimutinya dalam sekejap.
Sayup-sayup terdengar gema takbir membahana. Saat itu matahari telah tersenyum lembut di atas awan sana. Rifdah pun merasakan haru yang bercampur aduk. Bahagia karena hari Idul Fitri kembali menyapa dirinya dan umat muslim yang lain, sekaligus sedih karena justru dia menghabiskan masa kemenangan itu di RS. Sebelum dia bermandi air mata di depan musholla itu, Rifdah buru-buru kembali ke ruang ICU. Dia agak kaget begitu mendapati tak ada seorang pun di ruangan itu, bahkan para perawat pun tak terlihat batang hidungnya. Terlebih lagi karena di ruangan itu hanya ada satu pasien, yaitu neneknya. Pasalnya, satu pasien meninggal semalam dan pasien yang satunya telah pindah ke ruang perawatan. Agak ragu Rifdah pun melangkah masuk.
Entah apa yang terjadi, Rifdah sendiri bahkan tak bisa mendeskripsikan lewat untaian kata. Yang jelas tiba-tiba dia merasakan hawa aneh yang luar biasa. Bersamaan dengan itu bulu kuduknya pun merinding. Untuk pertama kalinya dia merasakan ketakutan yang tanpa dia inginkan muncul begitu saja. Padahal dia ingat waktu dinas di suatu RS, dia pernah berjaga malam sendirian di ruang ICU yang di sampingnya terdapat kamar jenazah, tapi tak pernah ada rasa takut menghinggapinya seperti saat ini.
Belum lagi sampai di bangsal neneknya, Rifdah memutar haluan dan mencari ibunya berhubung hanya mereka berdua yang jaga pagi ini. Yang lainnya pergi shalat id. Beberapa menit kemudian, Rifdah masuk kembali bersama bu Zahidah, ibunya. Rifdah agak heran mendapati sekarang sudah ada dua orang perawat di sana. Sepertinya tadi itu memang uji nyali untuknya. Mereka berdua pun duduk di samping bangsal nenek Rahimah.
Sang surya semakin tinggi dari peraduannya. Sejak tadi sudah banyak keluarga maupun tetangga Rifdah yang berkunjung membesuk nenek Rahimah. Beberapa menit berlalu, Rifdah kembali membaca surah Yasin seperti dini hari tadi. Entah ayat ke berapa, dia melihat tetesan bening mengalir kembali di sudut mata neneknya walau hanya satu tetes. Tak lama kemudian, tekanan darah nenek Rahimah semakin menurun hingga angka 0.
Rifdah mulai panik dan memanggil perawat.
“Maaf, dik, ibu. Sebaiknya kalian membacakan syahadat untuk nenek ini” ucap perawat itu.
Bibi Uzdah, anak ketiga nenek Rahimah menjerit keras dan menangis sejadi-jadinya. “Ibu…ibuuu…tidak..ibuuu!!” erangnya.
Rifdah yang tersadar akan itu amat kaget tapi dia langsung beristighfar dan membisikkan dua kalimat syahadat di telinga neneknya, sementara air mata gadis itu mulai bercucuran. Beberapa menit kemudian, terbebaslah jua ruh nenek Rahimah dari jasadnya.
Semua rentetan peristiwa yang terjadi masih seperti mimpi bagi Rifdah. Neneknya dikebumikan ba’da shalat Jumat tadi. Satu hal yang membuat hati Rifdah agak tenang karena neneknya meninggal dengan tenang, ditambah lagi hari meninggalnya bertepatan dengan dua hari baik yakni hari raya umat Islam dan hari Jumat. Subhanallah, gumam Rifdah.
Malamnya, bertepatan dengan hari ta’siyah neneknya, kembali Rifdah seolah jadi perhatian. Pasalnya, dia tetap ngotot memakai jilbab (gamis, red.) dan kerudung plus kaos kaki lengkap walaupun berada di dalam rumah. Tapi Rifdah memilih cuek saja dengan pandangan mereka dan tetap bersikap ramah karena dia yakin yang dilakukannya adalah benar. Pakaian yang dikenakannya sesuai dengan perintah Allah dalam surah Al-Ahzab: 59 dan An-Nur: 31.
Hingga akhirnya ketika masuk dapur, Rifdah kaget dengan kesibukan tetangga-tetangga rumahnya yang mempersiapkan sesuatu. Rifdah jadi curiga dibuatnya. Di depannya terlihat ada beras dalam ukuran tertentu dimasak dalam panci kecil. Selain itu, ada air dalam gelas yang agak tinggi, kelapa, gula, dan bahan-bahan lain. Rifdah memperhatikan dengan saksama. Tiba-tiba darahnya bergejolak, dia teringat akan adat-adat di kampungnya yang seringkali amat dekat dengan syirik. Dia pun memberanikan diri bertanya.
“Maaf bu, untuk apa semua bahan itu?” tanya Rifdah sopan.
“Oh, ini untuk persiapan acara ta’siyah nenekmu. Sudah seperti ini memang kebiasaan dan adat di kampung ini” jawab bu Laela, salah satu tetangga rumah paling dekat keluarga Rifdah. Bu Laela sendiri mempunyai anak perempuan juga yang dulu pernah sekelas dengan Rifdah waktu SMP tapi kemudian berhenti sekolah dan belakangan tersiar kabar dia telah MBA (Married by Accident), naudzubillah. Belum lagi penampilan bu Laela juga kadang agak terbuka cara berpakaiannya membuat Rifdah risih jika sedang menyapu di halaman rumah.
Rifdah diam tapi dalam hatinya dia memberontak. Dia tak rela neneknya di akhir hidupnya justru dibebankan dosa lagi oleh tetangga-tetangganya ini.
“Maaf, kenapa harus pakai begituan segala?” tanya Rifdah kembali.
“Wah, memang sudah begini adatnya. Sudah sejak dulu seperti ini. Orang-orang yang meninggal di kampung ini juga begitu” jawab bu Laela lagi mewakili ibu-ibu yang lain.
Tuh kan? batin Rifdah. Dia sudah menduga bahwa ini pasti budaya turun-temurun nenek moyang lagi. Inilah memang kondisi umat Islam yang terjebak pada taqlid (budaya ikut-ikutan) buta. Mereka melakukan perbuatan bukan karena paham hukum Syara’ tapi karena itu sudah budaya turun-temurun dari moyangnya mereka.
“Maaf, sekali lagi bu. Tapi saya rasa ibu-ibu tidak perlu melakukan itu. Tidak perlu ada pelaksanaan adat-adat seperti ini” tegas Rifdah, dia agak kesal juga sebenarnya.
“Hei, ini untuk nenekmu sendiri. Kenapa kau menghalang-halanginya? Lagipula semua orang desa juga melakukan hal yang sama. Kau tidak kasihan pada nenekmu?” tegur bu Laela.
“Justru karena saya kasihan pada nenek saya, makanya saya tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi” ujar Rifdah datar.
Mereka diam sejenak. Dalam hati, Rifdah sempat ciut juga. Masalahnya dia berhadapan dengan ibu-ibu di kampungnya, bukan remaja ataupun dewasa yang sebaya dengannya. Rifdah sendiri bukannya tak menyadari sorotan sinis dari beberapa pasang mata ibu-ibu yang ada di depannya. Tapi Rifdah memilih tetap keukeuh duduk di tangga tanpa membantu sedikit pun sembari menatap ibu-ibu yang lagi sibuk itu.
Mata Rifdah menelusuri ruangan dapur itu mencari sosok ibunya, dia butuh bantuan tenaga. Rifdah hanya melihat ada bibi Hasinah, adik ayahnya yang sedang mempersiapkan kue untuk para tamu. Dalam hati, kembali Rifdah berharap ada keluarganya yang membantunya.
Rifdah menghela napas sejenak sebelum berbicara lagi.
“Saya tidak bermaksud menentang ibu-ibu semua. Tapi setahu saya, dalam Islam tidak ada perintah yang seperti ini. Belum lagi adat-adat kampung yang biasanya berasal dari nenek moyang justru kadang malah jadi syirik..” jelas Rifdah setenang mungkin.
“Bukannya saya sok pintar, bu. Tapi Allah sendiri sudah mengatakan dalam kitab Al-qur’an surah Al-A’raaf ayat 28 yang menegaskan bahwa apakah manusia itu apabila melakukan suatu perbuatan keji dan mereka ditanya tentang perbuatannya itu, mereka menjawab bahwa ini berasal dari nenek moyang kami dan Allah memerintahkan seperti itu. Padahal Allah sama sekali tidak pernah memerintahkan yang demikian” lanjut Rifdah.
Ibu-ibu itu terdiam. Rifdah sendiri tak bisa menebak apa yang ada di hati mereka masing-masing tapi dia masih bisa merasakan bahwa sebagian dari mereka tak terima penentangannya.
“Iya, benar itu. Saya rasa juga dalam Islam tidak ada hal yang seperti itu” sahut bibi Hasinah tiba-tiba di antara mereka.
Rifdah agak bernapas lega mendengarnya. Dia segera keluar mencari ibunya dan memberitahu hal yang terjadi di dapur. Rifdah juga menyampaikan bahwa dia tak setuju ada adat seperti itu. Bisa-bisa nanti neneknya akan terbebani di akhirat sana.
“Lalu, dimana ibu-ibu itu sekarang?” tanya bu Zahidah.
“Masih di belakang bu” jawab Rifdah.
Mereka berdua segera bergerak menuju dapur.
“Maaf ibu-ibu sekalian, saya harap tidak ada lagi perdebatan di antara kita. Ini permintaan dari almarhumah ibu saya bahwa jika dia meninggal, jangan ada adat-adat yang dilakukan dalam penyelenggaraan kematiannya, termasuk ta’siyah seperti ini” terang bu Zahidah.
Ibu-ibu itu pun bubar seketika dan berjalan keluar. Rifdah sendiri kaget sekaligus senang mendengar perkataan ibunya. Berulang kali dia bersyukur dalam hati. Dengan semangat dia membereskan semua peralatan yang tadi disiapkan oleh ibu-ibu itu. Saat menyimpan kembali gelas yang tadinya disiapkan ibu-ibu itu, Rifdah masih sempat berpapasan dengan bu Laela. Rifdah melihat masih ada raut ketidaksukaan di wajah tetangganya itu, tapi bagaimanapun Rifdah tidak rela ada pelanggaran hukum syara’ malam itu.
Besok malamnya, keadaan rumah Rifdah sekeluarga sangat sepi. Padahal malam itu adalah malam ta’siyah kedua untuk nenek Rahimah. Pikiran Rifdah flash back ke kejadian kemarin malam. Dia terngiang kata-kata ibunya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa ternyata neneknya sudah mempersiapkan diri menyambut kematiannya dan tak ingin ada pelanggaran hukum Allah di sana. Rifdah pun kembali teringat bahwa beberapa waktu yang lalu memang neneknya seringkali bertanya tentang agama pada cucunya itu. Apalagi sejak Rifdah resmi diketahui oleh keluarganya bahwa dia sering ikut-ikut kajian Islam di kampus.
“Nak, bagaimana pendapatmu tentang adat baca-baca dan adat-adat lain yang biasa dilakukan masyarakat kampung kita?” tanya nenek Rahimah waktu itu.
“Yang Rifdah pahami sih nek, adat atau budaya itu boleh-boleh saja dilakukan asal tidak bertentangan dengan hukum Islam. Karena masalahnya hari ini rata-rata adat-istiadat dan budaya nenek moyang itu kebanyakan jatuhnya ke syirik padahal itu adalah dosa terbesar di sisi Allah. Dan inilah yang terjadi pada kaum muslim hari ini” jawab Rifdah.
“Jadi yang biasa kakek dan nenek lakukan dulu itu dosa ya? Padahal dulu kami sering beri sesajen begitu di pohon-pohon atau kuburan. Kakekmu juga itu nak, pakai baca-baca (semacam jimat) di tubuhnya” terang nenek Rahimah lagi.
Rifdah menghela napas dibuatnya.
“Ya, jika melanggar perintah Allah, dosa dong nek. Apalagi sesajen begitu, kita jadi menduakan Allah kan, padahal Allah sebaik-baik tempat meminta. Terus nek, kalau kakek memang pakai baca-baca, ada baiknya tolong nenek nasehati kakek ya supaya melepasnya dan memohon ampun pada Allah. Kasihan nanti di akhirat nek. Jadi, kita harus bertobat dari sekarang sebelum ajal menjemput” ucap Rifdah akhirnya.
Dan hari ini, Rifdah sangat bersyukur karena ternyata dakwahnya pada neneknya tempo hari sudah terlihat efeknya. Dia sangat bersyukur neneknya ternyata mendengarkan nasehat-nasehat dakwahnya dulu.
“Riifdaaah!” panggilan bu Zahidah membuyarkan lamunan Rifdah. Tergopoh-gopoh dia segera beranjak ke tempat ibunya memanggil.
“Bantu ibu, ambil kue-kue di belakang!” pinta bu Zahidah.
“Iya bu” jawab Rifdah lalu bergegas ke belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka sekeluarga duduk santai di ruang tamu. Biasanya ruangan itu akan penuh oleh tamu wanita, sementara tamu laki-laki tempatnya di halaman rumah. Namun, malam ini ruang tamu itu hanya diisi oleh Rifdah dan keluarganya.
“Lihatlah nak, beginilah kondisi orang-orang di kampung kita. Mereka itu punya emosional yang tinggi. Lihatlah, karena mereka tersinggung dengan penentanganmu semalam makanya sekarang tak satupun dari ibu-ibu itu yang datang” keluh bu Zahidah. Ekspresinya tampak begitu sedih.
Rifdah diam sejenak. Dia tahu akan seperti ini jadinya. Ulahnya semalam memang akan menimbulkan konsekuensi seperti yang terjadi sekarang.
“Sudahlah bu, jangan bersedih lagi. Bukankah nenek sendiri juga bahkan tak setuju ada adat-adat seperti itu. Jadi, ibu jangan sedih lagi ya” bujuk Rifdah.
“Benar juga sih nak, tapi lihatlah ibu-ibu itu. Mereka egois sekali sampai tidak ada satu pun yang datang malam ini” ujar bu Zahidah masih kesal.
“Sabar bu, entar juga mereka akan sadar sendiri. Yang penting kan kita sudah menyampaikan alasan kita menolak perbuatan mereka. Jelasnya, Rifdah tidak ridho kalau mereka melakukan pelanggaran hukum syara’ di rumah ini, bu!” tegas Rifdah.
Akhirnya berita itu sampai juga di telinga Pak Absyar, ayah Rifdah. Hal ini kemudian disampaikan kepada ustadz yang mengisi pengajian ta’siyah malam itu. Seperti yang dijelaskan Rifdah, akhirnya ustadz itu menyinggung perbuatan ibu-ibu yang tidak satu orang pun datang ke acara malam ini. Tak lupa pula ustadz itu menyampaikan bahwa adat-adat yang ada di kampung banyak yang terseret ke arah syirik.
Malam selanjutnya, kembali berbondong-bondonglah ibu-ibu tetangga rumah Rifdah berkunjung. Mereka berusaha bersikap biasa walau tampaknya tetap ada yang berubah suasananya. Keluarga Rifdah sendiri juga berusaha bersikap normal menanggapi hal tersebut. Di sudut ruangan Rifdah tersenyum. Lidahnya tak henti mengucap syukur.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Moga nenek hamba tenang di sisi-Mu. Ampuni hamba yang belum maksimal berdakwah di jalan-Mu. Apalagi di masyarakat, kadang hamba masih takut menyampaikan kebenaran. Tapi, kuatkan hamba agar suatu hari hamba bisa lebih maksimal lagi dalam menegakkan kalimah dan hukum-Mu di muka bumi” lirih Rifdah.
Hari Raya Idul Fitri telah berlalu 3 bulan lalu. Menyisakan kenangan pahit tapi manis untuk Rifdah. Hingga saat ini gadis itu masih meneguhkan hatinya dari perasaan kehilangan satu-satunya nenek yang sangat dekat dengannya. Tapi dibalik semua itu, Rifdah tiada henti bersyukur dibalik semua ujian yang menyertainya, ada bingkisan mungil yang dititipkan Allah padanya di hari raya kemarin. Dia menjadi lebih kuat, bijak, dan berani hari ini.
Alunan syair “Hold my Hand”-nya Maher Zain bergema dari HP Rifdah. Ternyata sepupunya yang menelepon.
“Assalamu’alaikum” sapa Rifdah.
Beberapa menit kemudian, “Benarkah?” tanya Rifdah pelan. “Baiklah, nanti saya usahakan pulang kampung jika ada kesempatan” ucapnya lalu menutup telepon.
Bersamaan dengan itu, pipinya mulai beranak sungai. Berita yang tadi didengarnya adalah berita meninggalnya kakeknya. Alhamdulillah, lirihnya dalam hati.
Dia bersyukur karena akhirnya kakeknya juga meninggal dengan tenang, tentunya setelah melepaskan segala macam jimat-jimat yang dulu dipakainya. Rifdah berusaha meyakinkan hatinya bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik. Maka dari itu, dia berusaha tidak menyesali segala yang terjadi walau itu memang berat. Hanya satu tempatnya bersandar, Kekasih sejati manusia. Dia tahu jalan perjuangan yang akan ditempuhnya masih panjang. Satu harapan tipis bergaung dalam hatinya, moga dirinya tetap istiqomah di jalan dakwah.
By: Naflah al-Khalishah
“Rifdah, ayo pergi! Obatnya sudah ayah ambil,” ujar seorang bapak-bapak yang usianya hampir setengah baya membuyarkan lamunan gadis itu.
Gadis yang bernama Rifdah itu mengangguk dan mengikuti langkah Pak Absyar, ayahnya menuju ruangan yang di depannya tertera label “Intensif Unit Care” alias ICU.
Begitu masuk ke ruangan itu, Rifdah tertegun memandangi sosok renta yang teronggok tak berdaya di salah satu bangsal itu. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan berbagai peralatan medis yang terpasang dengan lengkap.
Pikiran Rifdah mulai berkelana ke hari kemarin, saat nenek Rahimah, neneknya yang amat disayanginya itu tiba-tiba terkena serangan tekanan darah tinggi. Dia yang saat itu tengah asyik menyapu di lantai dua rumahnya tak mendengar hiruk pikuk yang terjadi di bawah. Saat dia turun, dia kaget mendapati semua penghuni rumahnya sudah berkumpul di kamar depan, di kamar kakek dan neneknya. Lebih kaget lagi saat dia tiba di kamar itu, matanya seakan tak percaya dengan yang dilihatnya. Di sana, di samping kakeknya yang terbaring lumpuh karena stroke, terbaring pula neneknya yang sudah setengah sadar. Bibirnya kelu untuk berkata-kata ketika dia telah mengukur tekanan darah neneknya yang ternyata sangat tinggi, yakni 260 mmHg. Kondisi neneknya semakin memburuk ketika malamnya hingga pagi ini, sosok renta itu pun dilarikan ke rumah sakit umum yang berada di kota. Parahnya karena sudah dua hari di RS, tapi neneknya belum pernah sadarkan diri sama sekali.
Waktu kembali bergulir dan pagi hari pun menyapa. Pagi buta itu dimanfaatkan oleh Rifdah untuk berjalan-jalan di sekitar RS. Hitung-hitung sambil refreshing sejenak. Sebenarnya dia sedang mencari kamar kecil, dia ingin membasuh wajahnya agar lebih segar. Agak lama berkeliling, yang terpampang di hadapannya kini justru sebuah musholla mungil yang membuat damai hati bagi yang memandang. Dia pun segera ke tempat wudhu dan membasuh wajahnya. Rasa segar pun menyelimutinya dalam sekejap.
Sayup-sayup terdengar gema takbir membahana. Saat itu matahari telah tersenyum lembut di atas awan sana. Rifdah pun merasakan haru yang bercampur aduk. Bahagia karena hari Idul Fitri kembali menyapa dirinya dan umat muslim yang lain, sekaligus sedih karena justru dia menghabiskan masa kemenangan itu di RS. Sebelum dia bermandi air mata di depan musholla itu, Rifdah buru-buru kembali ke ruang ICU. Dia agak kaget begitu mendapati tak ada seorang pun di ruangan itu, bahkan para perawat pun tak terlihat batang hidungnya. Terlebih lagi karena di ruangan itu hanya ada satu pasien, yaitu neneknya. Pasalnya, satu pasien meninggal semalam dan pasien yang satunya telah pindah ke ruang perawatan. Agak ragu Rifdah pun melangkah masuk.
Entah apa yang terjadi, Rifdah sendiri bahkan tak bisa mendeskripsikan lewat untaian kata. Yang jelas tiba-tiba dia merasakan hawa aneh yang luar biasa. Bersamaan dengan itu bulu kuduknya pun merinding. Untuk pertama kalinya dia merasakan ketakutan yang tanpa dia inginkan muncul begitu saja. Padahal dia ingat waktu dinas di suatu RS, dia pernah berjaga malam sendirian di ruang ICU yang di sampingnya terdapat kamar jenazah, tapi tak pernah ada rasa takut menghinggapinya seperti saat ini.
Belum lagi sampai di bangsal neneknya, Rifdah memutar haluan dan mencari ibunya berhubung hanya mereka berdua yang jaga pagi ini. Yang lainnya pergi shalat id. Beberapa menit kemudian, Rifdah masuk kembali bersama bu Zahidah, ibunya. Rifdah agak heran mendapati sekarang sudah ada dua orang perawat di sana. Sepertinya tadi itu memang uji nyali untuknya. Mereka berdua pun duduk di samping bangsal nenek Rahimah.
Sang surya semakin tinggi dari peraduannya. Sejak tadi sudah banyak keluarga maupun tetangga Rifdah yang berkunjung membesuk nenek Rahimah. Beberapa menit berlalu, Rifdah kembali membaca surah Yasin seperti dini hari tadi. Entah ayat ke berapa, dia melihat tetesan bening mengalir kembali di sudut mata neneknya walau hanya satu tetes. Tak lama kemudian, tekanan darah nenek Rahimah semakin menurun hingga angka 0.
Rifdah mulai panik dan memanggil perawat.
“Maaf, dik, ibu. Sebaiknya kalian membacakan syahadat untuk nenek ini” ucap perawat itu.
Bibi Uzdah, anak ketiga nenek Rahimah menjerit keras dan menangis sejadi-jadinya. “Ibu…ibuuu…tidak..ibuuu!!” erangnya.
Rifdah yang tersadar akan itu amat kaget tapi dia langsung beristighfar dan membisikkan dua kalimat syahadat di telinga neneknya, sementara air mata gadis itu mulai bercucuran. Beberapa menit kemudian, terbebaslah jua ruh nenek Rahimah dari jasadnya.
Semua rentetan peristiwa yang terjadi masih seperti mimpi bagi Rifdah. Neneknya dikebumikan ba’da shalat Jumat tadi. Satu hal yang membuat hati Rifdah agak tenang karena neneknya meninggal dengan tenang, ditambah lagi hari meninggalnya bertepatan dengan dua hari baik yakni hari raya umat Islam dan hari Jumat. Subhanallah, gumam Rifdah.
Malamnya, bertepatan dengan hari ta’siyah neneknya, kembali Rifdah seolah jadi perhatian. Pasalnya, dia tetap ngotot memakai jilbab (gamis, red.) dan kerudung plus kaos kaki lengkap walaupun berada di dalam rumah. Tapi Rifdah memilih cuek saja dengan pandangan mereka dan tetap bersikap ramah karena dia yakin yang dilakukannya adalah benar. Pakaian yang dikenakannya sesuai dengan perintah Allah dalam surah Al-Ahzab: 59 dan An-Nur: 31.
Hingga akhirnya ketika masuk dapur, Rifdah kaget dengan kesibukan tetangga-tetangga rumahnya yang mempersiapkan sesuatu. Rifdah jadi curiga dibuatnya. Di depannya terlihat ada beras dalam ukuran tertentu dimasak dalam panci kecil. Selain itu, ada air dalam gelas yang agak tinggi, kelapa, gula, dan bahan-bahan lain. Rifdah memperhatikan dengan saksama. Tiba-tiba darahnya bergejolak, dia teringat akan adat-adat di kampungnya yang seringkali amat dekat dengan syirik. Dia pun memberanikan diri bertanya.
“Maaf bu, untuk apa semua bahan itu?” tanya Rifdah sopan.
“Oh, ini untuk persiapan acara ta’siyah nenekmu. Sudah seperti ini memang kebiasaan dan adat di kampung ini” jawab bu Laela, salah satu tetangga rumah paling dekat keluarga Rifdah. Bu Laela sendiri mempunyai anak perempuan juga yang dulu pernah sekelas dengan Rifdah waktu SMP tapi kemudian berhenti sekolah dan belakangan tersiar kabar dia telah MBA (Married by Accident), naudzubillah. Belum lagi penampilan bu Laela juga kadang agak terbuka cara berpakaiannya membuat Rifdah risih jika sedang menyapu di halaman rumah.
Rifdah diam tapi dalam hatinya dia memberontak. Dia tak rela neneknya di akhir hidupnya justru dibebankan dosa lagi oleh tetangga-tetangganya ini.
“Maaf, kenapa harus pakai begituan segala?” tanya Rifdah kembali.
“Wah, memang sudah begini adatnya. Sudah sejak dulu seperti ini. Orang-orang yang meninggal di kampung ini juga begitu” jawab bu Laela lagi mewakili ibu-ibu yang lain.
Tuh kan? batin Rifdah. Dia sudah menduga bahwa ini pasti budaya turun-temurun nenek moyang lagi. Inilah memang kondisi umat Islam yang terjebak pada taqlid (budaya ikut-ikutan) buta. Mereka melakukan perbuatan bukan karena paham hukum Syara’ tapi karena itu sudah budaya turun-temurun dari moyangnya mereka.
“Maaf, sekali lagi bu. Tapi saya rasa ibu-ibu tidak perlu melakukan itu. Tidak perlu ada pelaksanaan adat-adat seperti ini” tegas Rifdah, dia agak kesal juga sebenarnya.
“Hei, ini untuk nenekmu sendiri. Kenapa kau menghalang-halanginya? Lagipula semua orang desa juga melakukan hal yang sama. Kau tidak kasihan pada nenekmu?” tegur bu Laela.
“Justru karena saya kasihan pada nenek saya, makanya saya tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi” ujar Rifdah datar.
Mereka diam sejenak. Dalam hati, Rifdah sempat ciut juga. Masalahnya dia berhadapan dengan ibu-ibu di kampungnya, bukan remaja ataupun dewasa yang sebaya dengannya. Rifdah sendiri bukannya tak menyadari sorotan sinis dari beberapa pasang mata ibu-ibu yang ada di depannya. Tapi Rifdah memilih tetap keukeuh duduk di tangga tanpa membantu sedikit pun sembari menatap ibu-ibu yang lagi sibuk itu.
Mata Rifdah menelusuri ruangan dapur itu mencari sosok ibunya, dia butuh bantuan tenaga. Rifdah hanya melihat ada bibi Hasinah, adik ayahnya yang sedang mempersiapkan kue untuk para tamu. Dalam hati, kembali Rifdah berharap ada keluarganya yang membantunya.
Rifdah menghela napas sejenak sebelum berbicara lagi.
“Saya tidak bermaksud menentang ibu-ibu semua. Tapi setahu saya, dalam Islam tidak ada perintah yang seperti ini. Belum lagi adat-adat kampung yang biasanya berasal dari nenek moyang justru kadang malah jadi syirik..” jelas Rifdah setenang mungkin.
“Bukannya saya sok pintar, bu. Tapi Allah sendiri sudah mengatakan dalam kitab Al-qur’an surah Al-A’raaf ayat 28 yang menegaskan bahwa apakah manusia itu apabila melakukan suatu perbuatan keji dan mereka ditanya tentang perbuatannya itu, mereka menjawab bahwa ini berasal dari nenek moyang kami dan Allah memerintahkan seperti itu. Padahal Allah sama sekali tidak pernah memerintahkan yang demikian” lanjut Rifdah.
Ibu-ibu itu terdiam. Rifdah sendiri tak bisa menebak apa yang ada di hati mereka masing-masing tapi dia masih bisa merasakan bahwa sebagian dari mereka tak terima penentangannya.
“Iya, benar itu. Saya rasa juga dalam Islam tidak ada hal yang seperti itu” sahut bibi Hasinah tiba-tiba di antara mereka.
Rifdah agak bernapas lega mendengarnya. Dia segera keluar mencari ibunya dan memberitahu hal yang terjadi di dapur. Rifdah juga menyampaikan bahwa dia tak setuju ada adat seperti itu. Bisa-bisa nanti neneknya akan terbebani di akhirat sana.
“Lalu, dimana ibu-ibu itu sekarang?” tanya bu Zahidah.
“Masih di belakang bu” jawab Rifdah.
Mereka berdua segera bergerak menuju dapur.
“Maaf ibu-ibu sekalian, saya harap tidak ada lagi perdebatan di antara kita. Ini permintaan dari almarhumah ibu saya bahwa jika dia meninggal, jangan ada adat-adat yang dilakukan dalam penyelenggaraan kematiannya, termasuk ta’siyah seperti ini” terang bu Zahidah.
Ibu-ibu itu pun bubar seketika dan berjalan keluar. Rifdah sendiri kaget sekaligus senang mendengar perkataan ibunya. Berulang kali dia bersyukur dalam hati. Dengan semangat dia membereskan semua peralatan yang tadi disiapkan oleh ibu-ibu itu. Saat menyimpan kembali gelas yang tadinya disiapkan ibu-ibu itu, Rifdah masih sempat berpapasan dengan bu Laela. Rifdah melihat masih ada raut ketidaksukaan di wajah tetangganya itu, tapi bagaimanapun Rifdah tidak rela ada pelanggaran hukum syara’ malam itu.
Besok malamnya, keadaan rumah Rifdah sekeluarga sangat sepi. Padahal malam itu adalah malam ta’siyah kedua untuk nenek Rahimah. Pikiran Rifdah flash back ke kejadian kemarin malam. Dia terngiang kata-kata ibunya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa ternyata neneknya sudah mempersiapkan diri menyambut kematiannya dan tak ingin ada pelanggaran hukum Allah di sana. Rifdah pun kembali teringat bahwa beberapa waktu yang lalu memang neneknya seringkali bertanya tentang agama pada cucunya itu. Apalagi sejak Rifdah resmi diketahui oleh keluarganya bahwa dia sering ikut-ikut kajian Islam di kampus.
“Nak, bagaimana pendapatmu tentang adat baca-baca dan adat-adat lain yang biasa dilakukan masyarakat kampung kita?” tanya nenek Rahimah waktu itu.
“Yang Rifdah pahami sih nek, adat atau budaya itu boleh-boleh saja dilakukan asal tidak bertentangan dengan hukum Islam. Karena masalahnya hari ini rata-rata adat-istiadat dan budaya nenek moyang itu kebanyakan jatuhnya ke syirik padahal itu adalah dosa terbesar di sisi Allah. Dan inilah yang terjadi pada kaum muslim hari ini” jawab Rifdah.
“Jadi yang biasa kakek dan nenek lakukan dulu itu dosa ya? Padahal dulu kami sering beri sesajen begitu di pohon-pohon atau kuburan. Kakekmu juga itu nak, pakai baca-baca (semacam jimat) di tubuhnya” terang nenek Rahimah lagi.
Rifdah menghela napas dibuatnya.
“Ya, jika melanggar perintah Allah, dosa dong nek. Apalagi sesajen begitu, kita jadi menduakan Allah kan, padahal Allah sebaik-baik tempat meminta. Terus nek, kalau kakek memang pakai baca-baca, ada baiknya tolong nenek nasehati kakek ya supaya melepasnya dan memohon ampun pada Allah. Kasihan nanti di akhirat nek. Jadi, kita harus bertobat dari sekarang sebelum ajal menjemput” ucap Rifdah akhirnya.
Dan hari ini, Rifdah sangat bersyukur karena ternyata dakwahnya pada neneknya tempo hari sudah terlihat efeknya. Dia sangat bersyukur neneknya ternyata mendengarkan nasehat-nasehat dakwahnya dulu.
“Riifdaaah!” panggilan bu Zahidah membuyarkan lamunan Rifdah. Tergopoh-gopoh dia segera beranjak ke tempat ibunya memanggil.
“Bantu ibu, ambil kue-kue di belakang!” pinta bu Zahidah.
“Iya bu” jawab Rifdah lalu bergegas ke belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka sekeluarga duduk santai di ruang tamu. Biasanya ruangan itu akan penuh oleh tamu wanita, sementara tamu laki-laki tempatnya di halaman rumah. Namun, malam ini ruang tamu itu hanya diisi oleh Rifdah dan keluarganya.
“Lihatlah nak, beginilah kondisi orang-orang di kampung kita. Mereka itu punya emosional yang tinggi. Lihatlah, karena mereka tersinggung dengan penentanganmu semalam makanya sekarang tak satupun dari ibu-ibu itu yang datang” keluh bu Zahidah. Ekspresinya tampak begitu sedih.
Rifdah diam sejenak. Dia tahu akan seperti ini jadinya. Ulahnya semalam memang akan menimbulkan konsekuensi seperti yang terjadi sekarang.
“Sudahlah bu, jangan bersedih lagi. Bukankah nenek sendiri juga bahkan tak setuju ada adat-adat seperti itu. Jadi, ibu jangan sedih lagi ya” bujuk Rifdah.
“Benar juga sih nak, tapi lihatlah ibu-ibu itu. Mereka egois sekali sampai tidak ada satu pun yang datang malam ini” ujar bu Zahidah masih kesal.
“Sabar bu, entar juga mereka akan sadar sendiri. Yang penting kan kita sudah menyampaikan alasan kita menolak perbuatan mereka. Jelasnya, Rifdah tidak ridho kalau mereka melakukan pelanggaran hukum syara’ di rumah ini, bu!” tegas Rifdah.
Akhirnya berita itu sampai juga di telinga Pak Absyar, ayah Rifdah. Hal ini kemudian disampaikan kepada ustadz yang mengisi pengajian ta’siyah malam itu. Seperti yang dijelaskan Rifdah, akhirnya ustadz itu menyinggung perbuatan ibu-ibu yang tidak satu orang pun datang ke acara malam ini. Tak lupa pula ustadz itu menyampaikan bahwa adat-adat yang ada di kampung banyak yang terseret ke arah syirik.
Malam selanjutnya, kembali berbondong-bondonglah ibu-ibu tetangga rumah Rifdah berkunjung. Mereka berusaha bersikap biasa walau tampaknya tetap ada yang berubah suasananya. Keluarga Rifdah sendiri juga berusaha bersikap normal menanggapi hal tersebut. Di sudut ruangan Rifdah tersenyum. Lidahnya tak henti mengucap syukur.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Moga nenek hamba tenang di sisi-Mu. Ampuni hamba yang belum maksimal berdakwah di jalan-Mu. Apalagi di masyarakat, kadang hamba masih takut menyampaikan kebenaran. Tapi, kuatkan hamba agar suatu hari hamba bisa lebih maksimal lagi dalam menegakkan kalimah dan hukum-Mu di muka bumi” lirih Rifdah.
Hari Raya Idul Fitri telah berlalu 3 bulan lalu. Menyisakan kenangan pahit tapi manis untuk Rifdah. Hingga saat ini gadis itu masih meneguhkan hatinya dari perasaan kehilangan satu-satunya nenek yang sangat dekat dengannya. Tapi dibalik semua itu, Rifdah tiada henti bersyukur dibalik semua ujian yang menyertainya, ada bingkisan mungil yang dititipkan Allah padanya di hari raya kemarin. Dia menjadi lebih kuat, bijak, dan berani hari ini.
Alunan syair “Hold my Hand”-nya Maher Zain bergema dari HP Rifdah. Ternyata sepupunya yang menelepon.
“Assalamu’alaikum” sapa Rifdah.
Beberapa menit kemudian, “Benarkah?” tanya Rifdah pelan. “Baiklah, nanti saya usahakan pulang kampung jika ada kesempatan” ucapnya lalu menutup telepon.
Bersamaan dengan itu, pipinya mulai beranak sungai. Berita yang tadi didengarnya adalah berita meninggalnya kakeknya. Alhamdulillah, lirihnya dalam hati.
Dia bersyukur karena akhirnya kakeknya juga meninggal dengan tenang, tentunya setelah melepaskan segala macam jimat-jimat yang dulu dipakainya. Rifdah berusaha meyakinkan hatinya bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik. Maka dari itu, dia berusaha tidak menyesali segala yang terjadi walau itu memang berat. Hanya satu tempatnya bersandar, Kekasih sejati manusia. Dia tahu jalan perjuangan yang akan ditempuhnya masih panjang. Satu harapan tipis bergaung dalam hatinya, moga dirinya tetap istiqomah di jalan dakwah.
By: Naflah al-Khalishah
PERMATA YANG TERNODA
Pernah lihat permata? Itu lho..yang cling-cling bling-bling itu, yang membuat mata yang memandang akan berkata “woww…silau man!” walah, ini sih hiperbola banget, hehe..gak segitunya kali ding. Eh, ding itu sapa? Tahu..kucing sebelah rumah! Duh, kok jadi ngelantur gini ya, sory deh..maklum baru belajar nulis jadi agak grogi gitu ^_^.
Hmm..sekarang serius nih (kacamata dipasang di hidung, kening pake berkerut..ala pak Profesor) ternyata batu permata itu klo diteliti merupakan campuran dari unsur-unsur mineral yang dapat membesar tanpa gangguan dan membentuk kristalnya yang khas. Tiap-tiap pengkristalan akan makin bagus hasilnya jika berlangsungnya proses itu makin tenang dan lambat. Bahkan terbentuknya batu permata itu sendiri bisa ratusan, ribuan hingga jutaan tahun dalam perut bumi.
Adakalanya permata terlihat berubah-ubah warna. Hal ini terjadi karena proses pemindahan panjang gelombang. Warna itu juga erat dikaitkan dengan cakra. Putih misalnya, meliputi berlian putih, mutiara putih, dll berkaitan dengan sumber energi di bagian kepala yaitu cakra tertinggi (ketujuh) membantu menciptakan harmoni, kesembuhan dan menjaga kesehatan tubuh. Hijau, meliputi jenis Giok, Jamrut, Malasit hijau, dll berkaitan dengan cakra keempat yaitu di daerah dada/jantung, membantu memperkuat jantung, menumbuhkan kasih sayang, memperkuat otot-otot syaraf, dll. dll. Sebenarnya getaran-getaran yang dihasilkan oleh batu permata itulah yang menimbulkan tenaga atau kekuatan. Itulah sebabnya batu permata juga kadang dijadikan sebagai cincin, gelang, kalung, ikat pinggang, dll yang sekaligus juga berfungsi untuk terapi, relaksasi, ataupun pengobatan.
Batu permata dikelompokkan dalam 5 kelas tapi yang termasuk kelas ketiga-lah yang dikenal dengan batu mulia yang banyak dijadikan perhiasan bagi kaum hawa. Walaupun pengaruh itu tentunya tidaklah mutlak karena pengaruh batu permata itu dibatasi oleh hukum Allah sebagai Sang Penguasa mutlak setiap hamba-Nya.
Serius banget ya bacanya? Hmm..Bicara tentang cakra jadi ingat Ying dan Yang. Apaan lagi tuh? Cari tahu sendiri aja ya. Pokoke..Masih banyak lagi warna dan jenis-jenis batu permata yang lain tapi di i-max yang kecil gini gak cukup untuk jelasinnya. Masalahnya entar penulis ditodong lagi bilang mau promosi batu permata disini, lagian juga bukan itu yang jadi pembahasan inti dari artikel ini. Lha, terus tadi panjang lebar bahas permata buat apa? Ya, hitung-hitung perkenalan dengan si permata dulu sekalian nambah referensi pengetahuan, woke?!
Setidaknya sekarang kalian sepakat kan klo permata itu bukan barang biasa apalagi benda tak berharga. Tapi permata itu barang berharga yang di zaman sekarang yang serba mahal ini, harga jualnya juga gak kalah saing dalam menguras kantong orang yang menginginkannya. Belum lagi, permata sendiri sampai dikatakan sebagai batu mulia. Batu kok mulia? Gimana caranya? Ehm..k-lo mau protes, tanya aja sama yang kasih nama permata itu batu mulia ya, jangan sama penulis dong!
Sebelumnya, mau nanya nih “Pernahkah kamu merasa tidak berdaya & merasa beban yang terpatri di pundakmu begitu berat?”. Aku tidak! Hmm…tidak jarang maksudnya, mengalami hal yang seperti itu. Merasa begitu banyak masalah dan ujian yang datang sehingga kadangkala berpikir aku tak mampu lagi memikulnya. Belum lagi k-lo di saat yang sama aku tak punya teman tuk berbagi, entah memang karena temannya lagi gak ada atau karena masalahnya pribadi jadi gak rela membaginya pada orang lain. Kompleks banget ya.
Teringat cerita seorang teman. Kisahnya begini: suatu ketika waktu dia masih kecil, orang tuanya bertengkar hebat di seperdua malam yang gelap nan sunyi. Dia yang tertidur lelap pun akhirnya terbangun dengan paksa dan terkejut menyaksikan yang di depan matanya. Orang tuanya berdiri berhadapan dan bertengkar lisan dengan sengit (untung bukan fisik). Ibunya tampak sudah berlinang air mata, sementara wajah ayahnya merah padam menahan amarah. Yang paling mengejutkannya adalah di tangan ibunya tergenggam sebilah pisau! Dan ibunya berkata: lebih baik bunuh saja aku! Ceraikan aku supaya kau puas! Ayahnya hanya diam. Temanku yang masih kecil tadi bengong, gak percaya apa yang di depan matanya. Apa yang bisa dilakukannya dengan tubuhnya yang mungil untuk mencegah terwujudnya perkataan ibunya itu? Akhirnya karena bingung, ia berlari memeluk dan bersimpuh di kaki ibunya, memohon kepada orang tuanya agar berhenti bertengkar. Untungnya kisah ini berakhir disini, tidak berakhir dengan kasus kriminal, pembunuhan!
Lantas sekarang, bagaimana kehidupan temanku itu? Tidak bisa dipungkiri bayangan kelam masa lalunya yang keras mau tidak mau berdampak pada karakternya yang keras juga. Itu tadi hanya salah satu kisah diantara sekian banyak kisah pahit dalam hidupnya. Jangan dibilang, temanku tadi juga sudah berungkali berniat bunuh diri saat merasa terlalu lelah menghadapi semuanya, tapi syukurnya gak pernah kesampaian. Akhirnya, dia hanya bisa bersabar, berdoa dan bersandar pada-Nya. Pengalaman hidupnya tanpa sadar menjadikan dia lebih bijak memaknai hidup dan mungkin lebih tegar dari yang lain ketika menyikapi suatu ujian hidup. Dan hari ini, dia sudah berbeda. Dia telah memilih berada di jalan dakwah, menyerukan kebenaran. Dan tebak yang terjadi, justru kehidupannya dengan ortunya yang gak ada sejarah harmonisnya, namun sekarang hubungan mereka jauh lebih dekat dan adem ayem.
Kisah temanku itu hanya salah satu contoh dari beraneka ragam ujian kehidupan yang tidak akan pernah henti melanda selama napas kita masih berhembus. Tergantung manusia kemudian, bagaimana mau menyikapinya..positif atau negative, bertahan atau menyerah. Yang jelas, satu yang harus kita ketahui bahwa ujian itu takkan diberikan di luar kemampuan kita. Percaya atau gak, terserah kamu kawan.
Ada satu hal yang baru-baru ini aku sadari. Bahwa penting untuk percaya pada diri sendiri. Konon, katanya tiap manusia memiliki qarin alias jin pendamping. Qarin itu ada dua, satu qarin yang baik dan satunya lagi qarin yang buruk. Makanya manusia dapat ditarik pada dua jenis perbuatan selama dia hidup, baik dan buruk. Untuk itu, sebaiknya dengarlah bisikan kebaikan yang terdapat dalam dirimu karena itu akan mengantarkanmu lebih dekat pada Sang Khaliq. Tapi..eits, 1 hal yang harus kamu ingat: cari tahu dulu mana versi baik dan buruk yang diinginkan oleh Pencipta kita, karena standar kebenaran itu hanya milik-Nya.
Semakin banyak ujian yang diberikan kepada seseorang artinya derajatnya harusnya juga lebih tinggi di sisi Allah. Bukankah hanya orang yang kuat dan dipercaya yang akan diberi tugas yang berat pula? Itu karena dia punya kelebihan dibanding yang lainnya. Tapi dengan catatan dia hanya bisa naik pangkat jika lulus tentunya. Maksudnya dia berhasil melaluinya dengan sabar & ikhlas. Iya gak? Sama halnya dengan permata yang kualitasnya semakin bagus jika proses terbentuknya dalam bumi semakin tenang dan lama.
Tapi seringkali manusia hidup di dunia hanya disibukkan berkutat pada masalah-masalah pribadi dan gak peduli masalah sekitar. K-lo gak percaya coba aja tengok sekeliling kita, manusia hidupnya individualistis. Contoh: biar aja tetangga kelaparan, yang penting keluargaku makan dengan cukup. Biar aja temanku gak menutup aurat yang penting aku menutup aurat dan jadi gadis baik-baik. Biar aja..biar aja..emang gue pikirin, yang penting hidup gue tenang. Belum lagi, parahnya orientasi hidup manusia hari ini adalah hedonis bin materialistik. Hidup hanya untuk bisa survive di bumi dan hidup tidak lebih dari lembaran duit. Contoh: anak gadis X rela menjual keperawanannya demi bilangan rupiah untuk membantu ekonomi keluarga.
Merasa agak panas alias gerah dengan contoh kasus di atas? K-lo iya, baguslah. Seperti halnya permata, jika pada batu permata ada kotoran di dalamnya maka kotoran tsb dapat menghambat proses pengiriman dan penerimaan getaran-getaran alam. Maka pada manusia, sifat individualistik dan orientasi hidup hedonis bin materialistik inilah yang menjadi kotoran yang menghambat kepekaan dan kesadaran manusia pada kondisi yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya sibuk mengurus dan menyelamatkan diri sendiri tanpa peduli saudara-saudaranya banyak yang menderita.
Sekarang, mari kita melihat dalam skala kacamata yang lebih besar. Anak-anak miskin di jalan melarat, tapi para wakil dewan yang tak terhormat di negeri ini malah bermandi harta. Data terbaru, jumlah anak miskin yang tak sekolah tahun ini mencapai sekitar 50 juta anak. Wow, tidakkah itu fantastis? K-lo itu jumlah rupiah sih, 50 juta cukup bisa membuat mata kita jadi pink tapi ini jumlah anak miskin yang tak sekolah, perut rasanya jadi terkocok-kocok (apa hubungannya coba?!). Jadi, pantas aja k-lo di perempatan lampu merah, ketika angkot berhenti maka terdengarlah lagu-lagu dari mulut-mulut mungil mereka mengharapkan ada diantara penumpang angkot yang sudi merogoh kocek mereka. Walau tak jarang kadang juga nasib mereka sedang tak mujur dapat rejeki, dan ketika angkot sudah bergerak saat lampu hijau menyala, dengan sabarnya dan setengah membungkuk mereka berkata “terima kasih pak bu”. Busyet dah, padahal mereka gak dikasih apa-apa lho, salut plus kasihan!
Sekarang, mari kita melihat dalam skala kacamata yang lebih besar. Anak-anak miskin di jalan melarat, tapi para wakil dewan yang tak terhormat di negeri ini malah bermandi harta. Data terbaru, jumlah anak miskin yang tak sekolah tahun ini mencapai sekitar 50 juta anak. Wow, tidakkah itu fantastis? K-lo itu jumlah rupiah sih, 50 juta cukup bisa membuat mata kita jadi pink tapi ini jumlah anak miskin yang tak sekolah, perut rasanya jadi terkocok-kocok (apa hubungannya coba?!). Jadi, pantas aja k-lo di perempatan lampu merah, ketika angkot berhenti maka terdengarlah lagu-lagu dari mulut-mulut mungil mereka mengharapkan ada diantara penumpang angkot yang sudi merogoh kocek mereka. Walau tak jarang kadang juga nasib mereka sedang tak mujur dapat rejeki, dan ketika angkot sudah bergerak saat lampu hijau menyala, dengan sabarnya dan setengah membungkuk mereka berkata “terima kasih pak bu”. Busyet dah, padahal mereka gak dikasih apa-apa lho, salut plus kasihan!
Oya, aku juga punya pengalaman menarik tentang anak-anak jalanan ini. Pernah suatu ketika aku dan beberapa orang temanku menikmati malam di Panlos (Pantai Losari) Makassar. Ngapaian? Ya hitung-hitung refreshing, sewot deh! Lanjut, tiba-tiba ada adik kecil mungkin umur 3 tahun mendekati kami dengan gitar plastik kecil di tangannya. Dengan nada yang sangat tidak jelas (bukannya menghina tapi sungguh…tiiiittttt) mengalunlah sebuah lagu yang dipopulerkan oleh salah satu band produk negeri ini “engkau yang sedang patah hati…”. Kami pun terkesima seketika. Bukan..bukan karena suaranya yang merdu tapi terkesima anak sekecil ini nyanyi lagu cinta layaknya orang dewasa. Salah satu temanku pun meminta adik itu untuk menyanyikan lagu anak-anak saja. Adik kecil itu pun diam, dia tak tahu mau nyanyi apa. Kami pun lebih terkesima lagi. Anak kecil justru tak tahu lagu untuk seumuran dia. Kami pun berkata, lagunya sembarang saja yang penting lagu anak-anak. Akhirnya setelah beberapa menit, dia pun bernyanyi “sembarang sembarang..sembarang-sembarang”. Setelah lagi-lagi kami terpana, serempak aku dan teman-temanku tertawa sambil geleng-geleng kepala. Tapi untungnya situasi itu tak berlangsung lama. Mungkin karena tersinggung, adik kecil tadi memutar keras otaknya (gaswat tuh) dan memorinya yang masih seumur jagung dan terlintaslah sebuah lagu di pikirannya. “anak-anak baru masuk sekolah..” dan akhirnya kami pun bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan seperti anak kecil, hehe.. Walaupun resikonya, kami jadi pusat perhatian sejenak bagi orang-orang yang ada di sekitar kami. Diantara orang-orang yang datang berpasang-pasangan tapi tidak halal, bergandengan tangan, berangkulan, berpelukan, dan tiitttt…(hush, i-max punya badan sensor disini) Aurat dimana-mana, paha ayam sari laut 11 ribu ripuah, mana kecil lagi tapi disini paha manusia ukuran jumbo gratis. Huh, gak usah ngomongin mereka dengan segala aktivitasnya disini. Aku rasa, bagi yang pernah ke Panlos pasti tahu lah gimana suasana di sana. Aneh bin ironisnya, Pol PP (petugas keamanan) yang ada di sana tugasnya hanya mengajak agar tidak pengunjung Panlos tidak buang sampah sembarangan dan tugas mulia mereka yang lain adalah mengawasi pedagang-pedagang liar yang bisa mengotori daerah disitu. Tapi kemaksiatan merajalela yang dilakukan oleh para pengunjung seolah menjadi hal yang lumrah dan tak mengganggu sedikit pun.
Beralih ke bulan suci yang telah berlalu dari hari-hari kita sekarang. Hmm..ingat kan sepertinya kita jadi pada alim-alim ya waktu Ramadhan itu. Jadi banyak beribadah, khususnya ibadah sunah. Jadi merasa ini moment untuk menjalankan syariat Sang Pencipta dan lebih dekat dekat dengan-Nya. Tapi di sisi lain, seolah ada amalan khusus yang haram di siang hari tapi halal di malam hari. Siangnya kaum adam tidak merokok, malamnya habis 1 bungkus rokok. Siangnya pacaran libur, malamnya jalan lancar bergandengan tangan dan berboncengan sama si doi buat tarawih bareng. Ada juga amalan khusus yang seolah wajib di bulan Ramadhan tapi 11 bulan setelahnya seolah jadi tidak wajib lagi hukumnya. Saat Ramadhan 1 bulan, cewek-cewek pada nutup aurat bahkan para artis tv pun pada berlomba-lomba masang kerudung biar lebih keliatan shalehah. 11 bulan setelah Ramadhan, eh kerudungnya terbang deh tertiup angin sepoi-sepoi. Saat Ramadhan, ibadah terjaga, perintah Allah dilaksanakan. 11 bulan setelahnya, ibadah k-lo lagi sempat aja, perintah Allah diabaikan. Pertanyaannya adalah: Emangnya Allah hanya ada saat bulan Ramadhan? Emangnya 2 malaikat di samping kiri dan kanan manusia libur bertugas di 11 bulan berikutnya?
Inilah sebenarnya kotoran terbesar yang melekat pada makhluk berakal yang bergelar manusia. Mengkotak-kotakkan, memilah-milah, memisahkan antara urusan dunia dan akhirat atau istilah kerennya Sekularisme yang diusung oleh ideologi bobrok Kapitalisme. Ibadah hanya berlaku pada waktu, tempat, dan situasi-situasi tertentu. Urusan akhirat itu urusan Tuhan tapi untuk dunia, silahkan manusia bebas mengaturnya. Padahal siapa coba yang paling tahu yang terbaik buat manusia? Otomatis ya Penciptanya, itu jawaban yang cerdas.
Tapi hari ini yang terjadi adalah manusia terlalu sombong membuat aturan sendiri dan mengabaikan aturan dari Sang Pencipta. Lihat saja bagaimana aturan di semua bidang kehidupan hari ini; mulai dari politik, ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, dll bersumber atas apa coba? Apa standarnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah? Padahal sejak SD kita sudah diajar mata pelajaran pendidikan agama Islam bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita. Artinya, harusnya setiap perbuatan kita sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam kitab suci itu. Inilah noda besar yang membuat permata yang berharga itu jadi kotor dan kehidupannya di bumi Allah ini tidak sejahtera.
Aku tak perlu mengatakan: k-lo begitu siapa yang punya tugas untuk membersihkan noda pada permata itu? Bukankah kalian punya akal, kawan. Gunakanlah itu sebagaimana mestinya. Satu hal yang mau ku tegaskan disini, umat Islam itu adalah permata yang berharga golongan batu mulia. Why? Karena mereka menyembah satu Tuhan, Allah SWT. Mereka beriman kepada-Nya tanpa mempersekutukannya dengan sesuatu pun. Syariah Islam yang dibawa Muhammad saw sebagai manusia termulia adalah hadiah terbesar yang dimiliki umat Islam. Di dalamnya ada aturan di semua bidang kehidupan. Hanya saja itu bisa diterapkan oleh satu-satunya Negara yang disyariatkan-Nya, yaitu Daulah Khilafah. Karena Negara inilah yang akan menjamin terlaksananya Syariat Islam secara kaffah (sempurna) dan menjamin kesejahteraan hidup umat yang bernaung di bawahnya, baik muslim maupun non muslim. Itulah satu-satunya cara membersihkan secara tuntas noda yang melekat pada permata mulia tadi.
Sekarang, jika sudah tahu hal di atas, masihkah kamu tidak mau tergerak berjuang? Kecuali kalau nuranimu sudah buta atau mati, maka kamu akan menutup mata akan kemaksiatan dan penderitaan yang menari-nari di depan matamu!
MENGEJAR MATAHARI
Let’s fighting! Go win the gold generation!
Di suatu sore nan bersahaja, namun penuh dengan kehangatan. Berkumpullah kemudian sekelompok bidadari dengan penampilan dan karakter mereka masing-masing yang unik. Di antara manusia-manusia lainnya yang bertebaran di sekitar mereka dengan aktivitas kesibukannya masing-masing. Maklum, mereka kan anak kuliahan yang jadwalnya segudang gitu lho. Entah itu tugas lab, tugas kuliah, kegiatan organisasi, atau ada juga yang hanya sekedar nongkrong nggak jelas demi menghabiskan waktu luang. Lain halnya dengan para bidadari tadi. Aktivitas mereka bukan aktivitas biasa seperti yang lainnya. Padahal di sisi lain, mereka juga masih bagian dari anak kuliahan itu. Mereka juga punya tugas-tugas akademik layaknya mahasiswa pada umumnya. Hanya saja, hal itu bukanlah aktivitas yang menghabiskan waktu mereka, poros hidup mereka bukan terletak pada kesibukan akademik seperti itu.
Mau tahu apa yang dilakukan oleh para bidadari itu? Seperti apa aktivitas mereka? Yup, para bidadari itu memang bukan orang yang biasa-biasa saja. Namun, mereka adalah hamba-hamba pilihan yang luar biasa dengan aktivitasnya yang juga luar biasa dahsyat, aktivitas termulia yang diemban oleh makhluk yang bergelar manusia. Hanya satu kata untuk menggambarkan aktivitas mulia itu. Satu kata yang mungkin sangat mudah diucap oleh lisan kita tapi untuk merealisasikan satu kata itu dalam hidup ternyata tidak semudah mengucapkannya tadi. Satu kata: DAKWAH! Suatu aktivitas menyeru, mengajak kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah kepada yang mungkar (buruk).
Tiba-tiba, ketika para bidadari itu sedang asyik bercengkrama, datanglah salah satu bidadari yang masih merupakan bagian dari kumpulan bidadari itu. Ternyata dia terlambat datang karena baru saja menjalani aktivitas rutinnya sebagai mahasiswa, yaitu kuliah. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba bidadari yang terlambat tadi mengeluarkan sesuatu yang bening dari dua jendela dunianya. Rupanya dia menangis. Otomatis, bidadari yang lain kaget menyaksikannya.
“Ada apa Aridhah?” tanya salah satu diantara mereka.
Aridhah masih juga terisak-isak sambil menutup mukanya dengan tangannya. Teman-temannya saling berpandangan tak mengerti situasi yang terjadi. Selang beberapa belas detik kemudian, Aridhah menurunkan tangannya dari wajahnya. Terlihatlah dengan jelas, air matanya yang tumpah dan matanya yang sudah memerah.
“Kalian harus semangat dalam jalan ini. Kalian jangan pernah menyerah karena apa yang kita bawa ini adalah sesuatu yang benar-benar asing buat masyarakat hari ini. Aku yakin sebentar lagi kemenangan itu akan tiba..” ucapnya diantara isak tangisnya.
Teman-teman Aridhah saling berpandangan dan menunggu pernyataan selanjutnya dari lisan salah satu bidadari itu.
“Aku baru saja dikeluarkan oleh dosenku…” sambung Aridhah kembali.
Kembali teman-temannya saling berpandangan satu sama lain. Ada yang mengangkat bahu, ada yang berkerut keningnya, ada yang marah, dan ada juga yang tersenyum.
“Kenapa?” kembali salah satu diantara mereka bertanya pada Aridhah.
“Ceritanya begini…” Aridhah mulai bercerita.
Flash Back
Setelah selesai sholat Azhar, Aridhah dengan terburu-buru menuju kelasnya. Pikirannya masih sempat melayang mengingat kalau sore ini juga ada rapat di LDK LDM. Tapi karena kuliahnya juga mendesak, akhirnya dia memutuskan ikut kuliah dulu baru ikut rapat. Ketika dia tiba di depan kelasnya, ternyata dosennya sudah duduk dengan tenang di dalam kelasnya. Aridhah pun mengambil napas panjang sebelum akhirnya memutuskan masuk.
“Assalamu’alaikum…” ucapnya lalu melangkah perlahan ke arah dosennya.
“Kenapa terlambat?” tegur dosennya dengan tegas.
“Kamu tahu, kamu itu seharusnya memberikan contoh untuk teman-temanmu. Sudah pakai kerudung besar dan gamis tapi kelakuanmu seperti ini…” sambung dosen Aridhah setengah meledek.
Aridhah menelan ludah. “Maaf Pak, saya tadi pergi sholat azhar dulu. Setelah itu baru kesini..” jelasnya kemudian.
Dosen Aridhah terdiam. “Ya sudah, duduklah segera di bangkumu!” ucapnya kemudian.
Beberapa menit kemudian, dosen itu lalu menjelaskan materi yang dibawakannya hari ini. Ternyata, salah satunya adalah membahas tentang Teori Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera. Aridhah yang cara berpikirnya sudah tersentuh dengan pemahaman Islam pun mulai merasakan darahnya agak panas. Dia tidak terima dengan penjelasan dosennya itu. Batinnya bergolak, dia sudah datang terlambat tadi, masa sekarang mau protes lagi? Bisa fatal akibatnya. Tapi, dia tak mampu membendung penolakan hati dan pemikirannya akan teori sesat yang diajarkan dosennya itu pada dirinya dan teman-temannya. Akhirnya, dia pun mengacungkan tangannya untuk interupsi.
“Ada apa?” tanya dosennya,
“Maaf sebelumnya Pak. Bukannya saya mau menentang Bapak, tapi bukankah dalam pelajaran pendidikan agama Islam diajarkan bahwa manusia pertama itu adalah Adam? Lantas, bagaimana bisa Bapak mengajarkan teori yang mengatakan bahwa manusia itu berasal dari kera? Artinya, secara tidak langsung Bapak menyamakan Nabi Adam dengan kera kalau begitu..” terang Aridhah.
Ekspresi wajah dosen Aridhah berubah drastis. “Apa kamu bilang? Kamu berani menentang saya? Bukankah teori ini sudah lama kita pelajari? Ini juga diperoleh dari hasil penelitian. Apa kamu mau bilang saya bodoh?” bentak dosen tersebut.
“Saya tidak mengatakan seperti itu Pak. Tapi bukankah dalam Al-qur’an sudah jelas Allah mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam, yang jelas bukan dari kera. Jadi, seharusnya kita jangan cepat percaya pada teori buatan Barat dari luar Islam yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri..” jelas Aridhah kembali.
“Kamu!!! Kamu…memang sok pintar. Kalau kamu memang tidak setuju dengan apa yang saya ajarkan, terserah kamu. Tapi jangan coba-coba memprovokasi dalam mata kuliah saya disini…” tegur dosen Aridhah dengan lebih keras kali ini.
Aridah tidak bisa menahan lagi penentangan dalam hatinya. Dia tidak ingin materi yang diajarkan dosennya itu ditelan mentah-mentah oleh teman-teman sekelasnya. Akhirnya dia berdiri.
“Teman-teman, apakah kalian setuju apabila kalian dikatakan berasal dari kera?” tanya Aridhah pada teman-temanya.
Hening menyelimuti ruang kelas itu. Udara tak bersahabat mulai berhembus perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam sumsum tulang. Aridhah merasakan sesuatu yang tak beres akan menimpa dirinya. Dia melihat teman-temannya rata-rata menunduk dalam-dalam. Ada juga yang tampak mencaci dirinya yang terlalu berani membantah dosen. Aridhah mengalihkan pandangannya pada dosennya. Wajah garang siap menerkam mangsa sudah menyambutnya.
“KAMU…KELUAR SEKARANG DARI KELAS SAYA!!!” hardik dosennya.
Aridhah menghela napas sebelum akhirnya dia mengambil tasnya dan melangkahkan kaki keluar dari ruang tempatnya menuntut ilmu itu. Sementara itu, tetesan bening sudah menggenang di pelupuk matanya.
Flash Back End
Aridhah mengakhiri ceritanya sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya ke depannya terkait mata kuliah dosen yang mengusirnya keluar ruangan itu.
Sementara itu, sahabat-sahabatnya mulai mendekati Aridhah. Respon mereka bermacam-macam. Ada yang marah karena menganggap dosen Aridhah keterlaluan dengan mengusir mahasiswa yang berusaha menyampaikan kebenaran padanya. Ada juga yang hanya diam membayangkan dirinya jika berada di posisi seperti Aridhah. Tapi ada juga yang tersenyum karena mereka tahu betul bahwa inilah salah satu asam manis perjuangan yang mereka emban.
Khayyirah, sebagai pemimpin para bidadari di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa, LDK LDM di Universitas Muslim Indonesia di kota Makassar itu, mengambil alih suasana.
“Inilah memang salah satu warna dari perjuangan kita kawan-kawan. Apa yang kita bawa, Islam memang adalah agama yang mereka bawa bawa sejak lahir, tapi hari ini justru mereka terasing dengan agama mereka sendiri. Tapi itu bukan hambatan buat kita tentunya untuk mundur dari jalan dakwah ini. Kisah teman kita, Aridhah sudah seharusnya menginspirasi kita bahwa perjuangan ini memang tidak mudah, penuh dengan konsekuensi tapi kita harus yakin bahwa semakin terjal aral rintangan dalam perjuangan, maka artinya kemenangan itu akan semakin dekat, insyaAllah. Jadi, sekarang memang sudah seharusnya kita bergerak lebih gencar lagi. Ratakan kampus ini dengan ide Syariah dan Khilafah yang kita bawa. TAKBIR!” ucapnya.
“ALLAHU AKBAR!!!” koor bidadari-bidadari yang lain serempak sebelum mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.
Mereka, para bidadari itu tak akan pernah berhenti berjuang sampai cita-cita yang mereka emban dapat mereka wujudkan. Sampai janji Allah dan Rasul-Nya menjadi kenyataan.
Mereka tahu, bahwa ke depannya perjuangan mereka akan lebih sulit lagi. Apalagi setelah UU Intelejen kemarin telah disahkan, membuat mereka nantinya yang memperjuangkan tegaknya kembali syariah Islam akan dituduh teroris yang akan membahayakan keamanan Negara. Tapi mereka, para pejuang Islam itu sungguh tak bisa menutup mata akan penderitaan umat yang menari-nari di depan mata mereka. Umat yang mati kelaparan karena kemiskinan, anak-anak yang tak bisa sekolah karena biaya pendidikan yang tak terjangkau kantong-kantong mereka, banyaknya orang sakit yang meninggal begitu saja karena rumah sakit yang jadi pasar komersial, dll. Bahkan bukan hanya umat Islam yang menderita tapi bahkan juga kaum kafir. Peristiwa Wall Street kemarin sudah cukup untuk menggambarkan bahwa penerapan system Kapitalisme hari ini sangat menyengsarakan semua umat manusia. Sekularisme yang merupakan asasnya memang sangat fatal karena memisahkan peran agama dalam mengatur masalah kehidupan. Akhirnya, semua bidang kehidupan hari ini diserahkan kepada manusia untuk membuat aturannya.
Padahal, Islam yang diturunkan oleh Sang Kekasih sejati manusia telah memiliki aturan yang sempurna dan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia. Hanya sayangnya, hari ini aturan itu, Syariah Islam yang seharusnya diemban oleh Negara adidaya Khilafah Islamiyah telah dicampakkan.
Inilah yang diperjuangkan oleh para bidadari itu. Mereka sadar betul bahwa Islam adalah cahaya. Ibaratnya mereka hari ini sedang mengejar matahari. Matahari yang mampu menerangi seluruh alam semesta dan menghapuskan kuasa kegelapan yang selama ini menyelimuti dari segenap penjuru dunia. Walau itu sulit dan berat; bahkan harta, tenaga, pikiran, dana, juga jiwa pun telah banyak yang gugur demi perjuangan mengembalikan matahari itu. Namun, mereka para pejuang itu sangat sadar bahwa janji Allah tak pernah salah, bahwa Islam akan kembali berkuasa, bahwa matahari itu akan kembali menerangi mereka dan seluruh umat manusia di muka bumi ini dengan sinarnya yang hangat dan terang benderang.
Di suatu sore nan bersahaja, namun penuh dengan kehangatan. Berkumpullah kemudian sekelompok bidadari dengan penampilan dan karakter mereka masing-masing yang unik. Di antara manusia-manusia lainnya yang bertebaran di sekitar mereka dengan aktivitas kesibukannya masing-masing. Maklum, mereka kan anak kuliahan yang jadwalnya segudang gitu lho. Entah itu tugas lab, tugas kuliah, kegiatan organisasi, atau ada juga yang hanya sekedar nongkrong nggak jelas demi menghabiskan waktu luang. Lain halnya dengan para bidadari tadi. Aktivitas mereka bukan aktivitas biasa seperti yang lainnya. Padahal di sisi lain, mereka juga masih bagian dari anak kuliahan itu. Mereka juga punya tugas-tugas akademik layaknya mahasiswa pada umumnya. Hanya saja, hal itu bukanlah aktivitas yang menghabiskan waktu mereka, poros hidup mereka bukan terletak pada kesibukan akademik seperti itu.
Mau tahu apa yang dilakukan oleh para bidadari itu? Seperti apa aktivitas mereka? Yup, para bidadari itu memang bukan orang yang biasa-biasa saja. Namun, mereka adalah hamba-hamba pilihan yang luar biasa dengan aktivitasnya yang juga luar biasa dahsyat, aktivitas termulia yang diemban oleh makhluk yang bergelar manusia. Hanya satu kata untuk menggambarkan aktivitas mulia itu. Satu kata yang mungkin sangat mudah diucap oleh lisan kita tapi untuk merealisasikan satu kata itu dalam hidup ternyata tidak semudah mengucapkannya tadi. Satu kata: DAKWAH! Suatu aktivitas menyeru, mengajak kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah kepada yang mungkar (buruk).
Tiba-tiba, ketika para bidadari itu sedang asyik bercengkrama, datanglah salah satu bidadari yang masih merupakan bagian dari kumpulan bidadari itu. Ternyata dia terlambat datang karena baru saja menjalani aktivitas rutinnya sebagai mahasiswa, yaitu kuliah. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba bidadari yang terlambat tadi mengeluarkan sesuatu yang bening dari dua jendela dunianya. Rupanya dia menangis. Otomatis, bidadari yang lain kaget menyaksikannya.
“Ada apa Aridhah?” tanya salah satu diantara mereka.
Aridhah masih juga terisak-isak sambil menutup mukanya dengan tangannya. Teman-temannya saling berpandangan tak mengerti situasi yang terjadi. Selang beberapa belas detik kemudian, Aridhah menurunkan tangannya dari wajahnya. Terlihatlah dengan jelas, air matanya yang tumpah dan matanya yang sudah memerah.
“Kalian harus semangat dalam jalan ini. Kalian jangan pernah menyerah karena apa yang kita bawa ini adalah sesuatu yang benar-benar asing buat masyarakat hari ini. Aku yakin sebentar lagi kemenangan itu akan tiba..” ucapnya diantara isak tangisnya.
Teman-teman Aridhah saling berpandangan dan menunggu pernyataan selanjutnya dari lisan salah satu bidadari itu.
“Aku baru saja dikeluarkan oleh dosenku…” sambung Aridhah kembali.
Kembali teman-temannya saling berpandangan satu sama lain. Ada yang mengangkat bahu, ada yang berkerut keningnya, ada yang marah, dan ada juga yang tersenyum.
“Kenapa?” kembali salah satu diantara mereka bertanya pada Aridhah.
“Ceritanya begini…” Aridhah mulai bercerita.
Flash Back
Setelah selesai sholat Azhar, Aridhah dengan terburu-buru menuju kelasnya. Pikirannya masih sempat melayang mengingat kalau sore ini juga ada rapat di LDK LDM. Tapi karena kuliahnya juga mendesak, akhirnya dia memutuskan ikut kuliah dulu baru ikut rapat. Ketika dia tiba di depan kelasnya, ternyata dosennya sudah duduk dengan tenang di dalam kelasnya. Aridhah pun mengambil napas panjang sebelum akhirnya memutuskan masuk.
“Assalamu’alaikum…” ucapnya lalu melangkah perlahan ke arah dosennya.
“Kenapa terlambat?” tegur dosennya dengan tegas.
“Kamu tahu, kamu itu seharusnya memberikan contoh untuk teman-temanmu. Sudah pakai kerudung besar dan gamis tapi kelakuanmu seperti ini…” sambung dosen Aridhah setengah meledek.
Aridhah menelan ludah. “Maaf Pak, saya tadi pergi sholat azhar dulu. Setelah itu baru kesini..” jelasnya kemudian.
Dosen Aridhah terdiam. “Ya sudah, duduklah segera di bangkumu!” ucapnya kemudian.
Beberapa menit kemudian, dosen itu lalu menjelaskan materi yang dibawakannya hari ini. Ternyata, salah satunya adalah membahas tentang Teori Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera. Aridhah yang cara berpikirnya sudah tersentuh dengan pemahaman Islam pun mulai merasakan darahnya agak panas. Dia tidak terima dengan penjelasan dosennya itu. Batinnya bergolak, dia sudah datang terlambat tadi, masa sekarang mau protes lagi? Bisa fatal akibatnya. Tapi, dia tak mampu membendung penolakan hati dan pemikirannya akan teori sesat yang diajarkan dosennya itu pada dirinya dan teman-temannya. Akhirnya, dia pun mengacungkan tangannya untuk interupsi.
“Ada apa?” tanya dosennya,
“Maaf sebelumnya Pak. Bukannya saya mau menentang Bapak, tapi bukankah dalam pelajaran pendidikan agama Islam diajarkan bahwa manusia pertama itu adalah Adam? Lantas, bagaimana bisa Bapak mengajarkan teori yang mengatakan bahwa manusia itu berasal dari kera? Artinya, secara tidak langsung Bapak menyamakan Nabi Adam dengan kera kalau begitu..” terang Aridhah.
Ekspresi wajah dosen Aridhah berubah drastis. “Apa kamu bilang? Kamu berani menentang saya? Bukankah teori ini sudah lama kita pelajari? Ini juga diperoleh dari hasil penelitian. Apa kamu mau bilang saya bodoh?” bentak dosen tersebut.
“Saya tidak mengatakan seperti itu Pak. Tapi bukankah dalam Al-qur’an sudah jelas Allah mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam, yang jelas bukan dari kera. Jadi, seharusnya kita jangan cepat percaya pada teori buatan Barat dari luar Islam yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri..” jelas Aridhah kembali.
“Kamu!!! Kamu…memang sok pintar. Kalau kamu memang tidak setuju dengan apa yang saya ajarkan, terserah kamu. Tapi jangan coba-coba memprovokasi dalam mata kuliah saya disini…” tegur dosen Aridhah dengan lebih keras kali ini.
Aridah tidak bisa menahan lagi penentangan dalam hatinya. Dia tidak ingin materi yang diajarkan dosennya itu ditelan mentah-mentah oleh teman-teman sekelasnya. Akhirnya dia berdiri.
“Teman-teman, apakah kalian setuju apabila kalian dikatakan berasal dari kera?” tanya Aridhah pada teman-temanya.
Hening menyelimuti ruang kelas itu. Udara tak bersahabat mulai berhembus perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam sumsum tulang. Aridhah merasakan sesuatu yang tak beres akan menimpa dirinya. Dia melihat teman-temannya rata-rata menunduk dalam-dalam. Ada juga yang tampak mencaci dirinya yang terlalu berani membantah dosen. Aridhah mengalihkan pandangannya pada dosennya. Wajah garang siap menerkam mangsa sudah menyambutnya.
“KAMU…KELUAR SEKARANG DARI KELAS SAYA!!!” hardik dosennya.
Aridhah menghela napas sebelum akhirnya dia mengambil tasnya dan melangkahkan kaki keluar dari ruang tempatnya menuntut ilmu itu. Sementara itu, tetesan bening sudah menggenang di pelupuk matanya.
Flash Back End
Aridhah mengakhiri ceritanya sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya ke depannya terkait mata kuliah dosen yang mengusirnya keluar ruangan itu.
Sementara itu, sahabat-sahabatnya mulai mendekati Aridhah. Respon mereka bermacam-macam. Ada yang marah karena menganggap dosen Aridhah keterlaluan dengan mengusir mahasiswa yang berusaha menyampaikan kebenaran padanya. Ada juga yang hanya diam membayangkan dirinya jika berada di posisi seperti Aridhah. Tapi ada juga yang tersenyum karena mereka tahu betul bahwa inilah salah satu asam manis perjuangan yang mereka emban.
Khayyirah, sebagai pemimpin para bidadari di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa, LDK LDM di Universitas Muslim Indonesia di kota Makassar itu, mengambil alih suasana.
“Inilah memang salah satu warna dari perjuangan kita kawan-kawan. Apa yang kita bawa, Islam memang adalah agama yang mereka bawa bawa sejak lahir, tapi hari ini justru mereka terasing dengan agama mereka sendiri. Tapi itu bukan hambatan buat kita tentunya untuk mundur dari jalan dakwah ini. Kisah teman kita, Aridhah sudah seharusnya menginspirasi kita bahwa perjuangan ini memang tidak mudah, penuh dengan konsekuensi tapi kita harus yakin bahwa semakin terjal aral rintangan dalam perjuangan, maka artinya kemenangan itu akan semakin dekat, insyaAllah. Jadi, sekarang memang sudah seharusnya kita bergerak lebih gencar lagi. Ratakan kampus ini dengan ide Syariah dan Khilafah yang kita bawa. TAKBIR!” ucapnya.
“ALLAHU AKBAR!!!” koor bidadari-bidadari yang lain serempak sebelum mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.
Mereka, para bidadari itu tak akan pernah berhenti berjuang sampai cita-cita yang mereka emban dapat mereka wujudkan. Sampai janji Allah dan Rasul-Nya menjadi kenyataan.
Mereka tahu, bahwa ke depannya perjuangan mereka akan lebih sulit lagi. Apalagi setelah UU Intelejen kemarin telah disahkan, membuat mereka nantinya yang memperjuangkan tegaknya kembali syariah Islam akan dituduh teroris yang akan membahayakan keamanan Negara. Tapi mereka, para pejuang Islam itu sungguh tak bisa menutup mata akan penderitaan umat yang menari-nari di depan mata mereka. Umat yang mati kelaparan karena kemiskinan, anak-anak yang tak bisa sekolah karena biaya pendidikan yang tak terjangkau kantong-kantong mereka, banyaknya orang sakit yang meninggal begitu saja karena rumah sakit yang jadi pasar komersial, dll. Bahkan bukan hanya umat Islam yang menderita tapi bahkan juga kaum kafir. Peristiwa Wall Street kemarin sudah cukup untuk menggambarkan bahwa penerapan system Kapitalisme hari ini sangat menyengsarakan semua umat manusia. Sekularisme yang merupakan asasnya memang sangat fatal karena memisahkan peran agama dalam mengatur masalah kehidupan. Akhirnya, semua bidang kehidupan hari ini diserahkan kepada manusia untuk membuat aturannya.
Padahal, Islam yang diturunkan oleh Sang Kekasih sejati manusia telah memiliki aturan yang sempurna dan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia. Hanya sayangnya, hari ini aturan itu, Syariah Islam yang seharusnya diemban oleh Negara adidaya Khilafah Islamiyah telah dicampakkan.
Inilah yang diperjuangkan oleh para bidadari itu. Mereka sadar betul bahwa Islam adalah cahaya. Ibaratnya mereka hari ini sedang mengejar matahari. Matahari yang mampu menerangi seluruh alam semesta dan menghapuskan kuasa kegelapan yang selama ini menyelimuti dari segenap penjuru dunia. Walau itu sulit dan berat; bahkan harta, tenaga, pikiran, dana, juga jiwa pun telah banyak yang gugur demi perjuangan mengembalikan matahari itu. Namun, mereka para pejuang itu sangat sadar bahwa janji Allah tak pernah salah, bahwa Islam akan kembali berkuasa, bahwa matahari itu akan kembali menerangi mereka dan seluruh umat manusia di muka bumi ini dengan sinarnya yang hangat dan terang benderang.
Menyongsong Abad Emas Khilafah
Siapa yang tak kenal Kapitalisme? Hayoo…Hari gini, ketinggalan zaman kalau masih ada yang tak kenal dengan makhluk yang diberi julukan ‘Kapitalisme’. Apalagi yang bergelar mahasiswa, kentara banget gak GAUL-nya jika masih asing dengan si Kapitalisme ini. Gimana gak, Kapitalisme ini setiap harinya menyapa dan berkeliaran di sekitar kita. Tak satu pun sisi kehidupan yang tak dimasukinya. Sehingga wajar jika kemudian selayaknya kita begitu akrab dengannya. Dimana-mana yang dibicarakan dan dikejar adalah Capital alias money or duit.
Yup, Kapitalisme yang sejatinya adalah salah satu bagian dari 3 ideologi yang ada di dunia. Ideologi ini diusung oleh negara Paman-nya si Sam, Amerika Serikat. Negara teroris superpower di dunia. Ada yang protes? Baca dulu sampai habis kawan jika kamu masih merasa bagian dari kaum intelektual bergelar MAHASISWA. Jangan buru-buru beranjak pergi gitu!
Suerr kawan, ini adalah fakta lho, gak bohong. Negara Paman Sam itulah “The Real Terrorist”. Lihat aja coba gimana ulah Negara superpower ini menghancurkan negeri-negeri muslim di dunia dengan isu ‘War on Terorism’. Invasi di Irak dan Afghanistan, contoh kecilnya. Sadar atau tidak, yang tinggal di dua negeri tadi adalah saudara kita lho kawan. Saudara yang bahkan saking dekatnya, kita diibaratkan ‘satu tubuh’ dengan mereka. Tapi, apa kita saat ini merasakan kepedihan yang mereka rasakan? Ayo, ngaku aja deh!
Back to Capitalism, by the way si Kapitalisme ini karena pengaruhnya yang semakin mendunia, membuatnya terlihat begitu kokoh dan perkasa. Kapitalisme yang aqidah alias landasannya adalah sekulerisme telah meniadakan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan. Kewenangan membuat hukum diserahkan pada manusia yang notabene bervariasi dan lemah. Agama hanya boleh dibahas di masjid-masjid, gereja-gereja dan tempat peribadatan lainnya. Namun, di sekolah-sekolah, pasar-pasar, dan tempat-tempat umum lainnya, dilarang bawa-bawa ‘Agama’. Jadinya, gak ada tuh yang namanya HALAL – HARAM. Yang penting mendatangkan materi alias dana, semuanya diembat aja bahkan menjual negaranya sendiri ke kaum kafir sekalipun. Akibatnya, so pasti Kapitalis-Sekuler ini adalah paham yang rusak, gak bisa dan gak cocok dipakai untuk mendatangkan ketenangan dan kesejahteraan hidup.
Dan pada kenyataannya, Kapitalisme hari ini memang sudah diambang kehancuran. Direktur Bank Dunia (World Bank), Robert Zoellick menyatakan ‘Krisis ekonomi di dunia saat ini menunjukkan kegagalan sistem ekonomi kapitalis’. Ungkapan senada dari Morris Berman dalam bukunya “Dark Ages Amerika” mengatakan ‘Imperium Amerika akan segera runtuh’. Hal ini juga diperburuk dengan tuntutan warga yang berasal dari Negara-negara utama pengusung Kapitalisme seperti Amerika dan negara-negara di Eropa. Mereka menuntut adanya perubahan sistem di Negara tempat mereka tinggal. Masih hangat di benak kita, peristiwa “Occupy Wall Street” yang gelombangnya merambat hingga ke seantero dunia dan semakin menyuburkan tumbuhnya gerakan ‘Anti Kapitalisme’ di beberapa Negara. Bahkan Inggris pun akhirnya mendapat gelar baru yaitu “Negara Pengangguran Nomor 1 di Dunia”. Fakta lain, penguasa-penguasa boneka perpanjangan tangan kaum kafir di negeri-negeri muslim pun berguguran satu-persatu, bahkan ada yang mati di tangan rakyatnya sendiri. Itulah sederetan fakta yang membuktikan bahwa Kapitalisme memang telah rapuh tak bergigi lagi. Sistem cacat sejak lahir ini ibaratnya sosok tua renta pesakitan yang tinggal menunggu ajal.
Sementara itu, di sisi lain ada gerakan lain yang perlahan tapi pasti mulai menunjukkan keperkasaannya. Ternyata selain si pahlawan kesiangan Kapitalis, ada pahlawan lain yang tidak kalah hebat bahkan lebih tangguh. Dialah pahlawan sejati yang sesungguhnya, ‘The Real Hero’. Geram aumannya telah berkumandang di seantero jagad. Itulah seruan ‘Kebangkitan Islam’ kawan. Barat lebih mengenalnya dengan julukan Islam politik alias Khilafah.
Nah, sekarang siapa lagi yang gak kenal sama Khilafah? Hayo, unjuk gigi! Zaman gini hanya orang-orang ketinggalan zaman bin kuper juga yang belum kenalan sama si Khilafah ini. Atau paling nggak, orang macam ini kerjanya hanya tidur mulu alias cuek bebek dengan kondisi sekitarnya. Apatis, itu julukannya. Atau mungkin juga memang telmi (telat mikir).
Kalau Negara Amerika Serikat (AS) mungkin semua orang kenal tapi Negara Khilafah, Who knows? Inilah salah satu bukti keberhasilan ideologi Kapitalisme-nya AS telah menggerogoti tubuh umat dunia, tak luput pula kaum muslim. Dengan aqidah sekulerisme yang melekat pada ideologi ini membuat kaum muslim pun akhirnya buta akan agama mereka. Islam hanya sekedar dikenal sebagai agama seputar Shalat, Zakat, Haji, berakhlak baik (termasuk pada orang kafir?! Akhirnya kekayaan alam negeri-negeri muslim ludes!), dan ibadah Maghdah lainnya. Padahal, Islam tak sesempit itu kawan. Jika kalian kenal baik ideologi Kapitalis yang katanya hebat itu, maka satu-satunya lawan sepadan ideologi ini bukan ideologi sesat Sosialis (Tuhan aja mereka gak kenal, parah?!). Namun, lawan sepadan buat si Kapitalis adalah satu-satunya ideologi yang benar yaitu ISLAM. Lho kok? Yup, kalian tidak salah dengar. Ideologi tangguh itu adalah Islam atau seperti yang dikatakan sama orang Barat sana, yakni Islam Politik. Jadi ceritanya Islam itu bukan hanya sederetan kumpulan ibadah ritual semata. But Islam lebih kompleks dari semua itu. Islam punya sekumpulan aturan & hukum dalam semua bidang kehidupan, mulai dari kita “Bangun Tidur” sampai “Bangun Negara”. Entah itu Politik, Ekonomi, Hukum, Pendidikan, Kesehatan dan bidang lainnya; semua udah komplit plit plit.
Coba aja buka Qur’an & tafsirnya surah Al-Anbiya: 107. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, melainkan dalam rangka rahmat Kami bagi seluruh alam dalam agama maupun dunia, sebab manusia dalam kesesatan dan kebingungan (Syaikh an-Nawawi Al Jawi dalam tafsir Marah Labid (Tafsir Munir) Juz II/47). Rahmat Allah SWT ini bukanlah berkaitan dengan pribadi Muhammad saw. sebagai manusia, tapi sebagai rasul yang diutus untuk membawa syari’at yang memang paling unggul dibandingkan aturan-aturan atau agama yang ada di dunia. Pengertian rahmatan lil ‘âlamîn itu terwujud dalam realitas kehidupan tatkala Muhammad Rasulullah saw. kemudian telah mengimplementasikan seluruh risalah Islam di bawah naungan sebuah Negara. Itulah KHILAFAH. So, masih gak percaya Islam itu juga ideologi? Bagi mereka juga yang masih merasa ‘tabu’ dengan Islam politik artinya pikiran mereka masih sempit, terkungkung. Calm down frends, bukannya mengejek tapi buktinya orang Barat yang notabene kaum kuffar itu saja percaya akan kekuatan & kebangkitan Islam, padahal mereka gak ber-Aqidah Islam lho!
Belum lagi, lebih mengherankan mereka yang seringkali juga mengatakan Khilafah itu utopis alias khayalan semata. Mereka yang notabene justru lebih banyak beragama Islam. Yang sehari-harinya mungkin rajin membaca Al-qur’an tapi seakan gak percaya sama ‘busyra’ Rasul: “…Akan tegak kembali Khilafah di atas manhaj Kenabian” (HR. Ahmad). Yang lucunya juga, justru kaum Barat yang kafir telah mengantisipasi sejak dini berita gembira dari Rasulullah ini. Salah satunya yang dirumuskan oleh NIC (National Intellegence Council) yang hasil penelitian mereka dibukukan dalam Mapping The Global Future (MGF), yang diterbitkan pada Desember 2004. NIC dengan segenap kemampuan dan energinya melakukan riset mendalam guna menilai possibilitas (kemungkinan) berdirinya kembali Khilafah akan benar-benar terjadi. Dalam riset itu, NIC memprediksi ada 4 skenario global yang bakal terjadi pada tahun 2020. Dimana pada poin ketiga: A New Chalipate digambarkan bagaimana identitas global yang didorong oleh Islam radikal bisa muncul. Sebuah Khilafah baru diproklamasikan dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah seperti: Timur Tengah, sebagian Afrika dan Asia yang pernah menjadi bagian Khilafah pada masa lalu. Khilafah pun tumbuh menjadi lawan dari ideologi yang ada.
Masih belum puas? Let’s listen their statements. Mantan Menlu Inggris (6 Oktober 2005), Charles Clark mengatakan ‘Tidak boleh ada negosiasi tentang penegakan kembali Khilafah. Tidak boleh ada negosiasi dalam upaya menerapkan hukum Syariah’. Ditambah lagi Komandan Pasukan AS di Timur Tengah, John Abizaid mengatakan ‘Mereka akan berusaha menegakkan kembali Khilafah untuk seluruh dunia Islam. Kita harus belajar dari apa yang mereka ingin lakukan dari mulut-mulut mereka sendiri’. Bahkan Mantan Presiden AS, George W. Bush mengatakan ‘Orang-orang militan itu percaya, dengan menguasai sebuah Negara atau kawasan, mereka akan bisa menyatukan kaum muslim, memungkinkan mereka menggulingkan semua pemerintahan moderat di kawasan tersebut, dan mendirikan sebuah Imperium Islam radikal yang meliputi kawasan Spanyol sampai ke Indonesia’. Jadi, tak heranlah jika kemudian kaum Barat kuffar ini begitu perhatian pada urusan-urusan kaum muslim di negeri-negeri mereka. Istilah kerennya “intervensi asing” di negeri-negeri muslim di dunia, termasuk Indonesia. Kaum kuffar ini terlalu takut akan bangkitnya kembali Imperium Islam yaitu Khilafah. Karena mereka sadar betul, dengan tegaknya Khilafah kembali maka riwayat mereka pun is dead, it’s over!
So, buat kalian yang masih takut dengan istilah Khilafah alias Negara Islam sudah saatnya mengganti cara berpikir dan bertindak yang selalu mengekor Barat Kuffar. Khilafah adalah sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kita, umat muslim. Ia ibarat ‘IBU’ yang mengayomi anak-anaknya. Ketika dia diruntuhkan pada 3 Maret 1924 silam, disitulah kaum muslim mulai hidup menderita bahkan tertindas di negerinya sendiri seperti hari ini. Persatuan yang dulunya berada dalam satu kepemimpinan global di masa Khilafah pun tergantikan menjadi nasionalisme, ajang pertumpahan darah sesama muslim hari ini. Saatnya menghentikan sikap acuh dan ego kita yang tak peduli dengan problematika umat hari ini. Apalagi ikut latah mengejek dan menghina para pejuang agama Allah, para pejuang Syariah & Khilafah. Kaum Barat kuffar saja yakin dan takut dengan apa yang mereka perjuangkan, mengapa sesama muslim justru berpecah belah? Bukankah kita dipersatukan satu Aqidah “Laa ilaaha illah Allah”, lantas kenapa Ideologi kita tidak satu, yaitu Islam? Gak seru kawan.
Do you know? With you or without you, ISLAM WILL RISE AGAIN! KHILAFAH WILL LEAD THE WORLD! So, ask your self: MAU JADI PEJUANG ATAU JADI PECUNDANG? Janji Allah dan Rasul-NYA pasti akan terpenuhi. Saatnya menyongsong era ‘Abad Emas Khilafah’ itu kembali. So, make your choice from now! ‘Cause LIFE IS CHOICE! Wallahu a’lam. (3SB)
Yup, Kapitalisme yang sejatinya adalah salah satu bagian dari 3 ideologi yang ada di dunia. Ideologi ini diusung oleh negara Paman-nya si Sam, Amerika Serikat. Negara teroris superpower di dunia. Ada yang protes? Baca dulu sampai habis kawan jika kamu masih merasa bagian dari kaum intelektual bergelar MAHASISWA. Jangan buru-buru beranjak pergi gitu!
Suerr kawan, ini adalah fakta lho, gak bohong. Negara Paman Sam itulah “The Real Terrorist”. Lihat aja coba gimana ulah Negara superpower ini menghancurkan negeri-negeri muslim di dunia dengan isu ‘War on Terorism’. Invasi di Irak dan Afghanistan, contoh kecilnya. Sadar atau tidak, yang tinggal di dua negeri tadi adalah saudara kita lho kawan. Saudara yang bahkan saking dekatnya, kita diibaratkan ‘satu tubuh’ dengan mereka. Tapi, apa kita saat ini merasakan kepedihan yang mereka rasakan? Ayo, ngaku aja deh!
Back to Capitalism, by the way si Kapitalisme ini karena pengaruhnya yang semakin mendunia, membuatnya terlihat begitu kokoh dan perkasa. Kapitalisme yang aqidah alias landasannya adalah sekulerisme telah meniadakan peran Tuhan dalam mengatur kehidupan. Kewenangan membuat hukum diserahkan pada manusia yang notabene bervariasi dan lemah. Agama hanya boleh dibahas di masjid-masjid, gereja-gereja dan tempat peribadatan lainnya. Namun, di sekolah-sekolah, pasar-pasar, dan tempat-tempat umum lainnya, dilarang bawa-bawa ‘Agama’. Jadinya, gak ada tuh yang namanya HALAL – HARAM. Yang penting mendatangkan materi alias dana, semuanya diembat aja bahkan menjual negaranya sendiri ke kaum kafir sekalipun. Akibatnya, so pasti Kapitalis-Sekuler ini adalah paham yang rusak, gak bisa dan gak cocok dipakai untuk mendatangkan ketenangan dan kesejahteraan hidup.
Dan pada kenyataannya, Kapitalisme hari ini memang sudah diambang kehancuran. Direktur Bank Dunia (World Bank), Robert Zoellick menyatakan ‘Krisis ekonomi di dunia saat ini menunjukkan kegagalan sistem ekonomi kapitalis’. Ungkapan senada dari Morris Berman dalam bukunya “Dark Ages Amerika” mengatakan ‘Imperium Amerika akan segera runtuh’. Hal ini juga diperburuk dengan tuntutan warga yang berasal dari Negara-negara utama pengusung Kapitalisme seperti Amerika dan negara-negara di Eropa. Mereka menuntut adanya perubahan sistem di Negara tempat mereka tinggal. Masih hangat di benak kita, peristiwa “Occupy Wall Street” yang gelombangnya merambat hingga ke seantero dunia dan semakin menyuburkan tumbuhnya gerakan ‘Anti Kapitalisme’ di beberapa Negara. Bahkan Inggris pun akhirnya mendapat gelar baru yaitu “Negara Pengangguran Nomor 1 di Dunia”. Fakta lain, penguasa-penguasa boneka perpanjangan tangan kaum kafir di negeri-negeri muslim pun berguguran satu-persatu, bahkan ada yang mati di tangan rakyatnya sendiri. Itulah sederetan fakta yang membuktikan bahwa Kapitalisme memang telah rapuh tak bergigi lagi. Sistem cacat sejak lahir ini ibaratnya sosok tua renta pesakitan yang tinggal menunggu ajal.
Sementara itu, di sisi lain ada gerakan lain yang perlahan tapi pasti mulai menunjukkan keperkasaannya. Ternyata selain si pahlawan kesiangan Kapitalis, ada pahlawan lain yang tidak kalah hebat bahkan lebih tangguh. Dialah pahlawan sejati yang sesungguhnya, ‘The Real Hero’. Geram aumannya telah berkumandang di seantero jagad. Itulah seruan ‘Kebangkitan Islam’ kawan. Barat lebih mengenalnya dengan julukan Islam politik alias Khilafah.
Nah, sekarang siapa lagi yang gak kenal sama Khilafah? Hayo, unjuk gigi! Zaman gini hanya orang-orang ketinggalan zaman bin kuper juga yang belum kenalan sama si Khilafah ini. Atau paling nggak, orang macam ini kerjanya hanya tidur mulu alias cuek bebek dengan kondisi sekitarnya. Apatis, itu julukannya. Atau mungkin juga memang telmi (telat mikir).
Kalau Negara Amerika Serikat (AS) mungkin semua orang kenal tapi Negara Khilafah, Who knows? Inilah salah satu bukti keberhasilan ideologi Kapitalisme-nya AS telah menggerogoti tubuh umat dunia, tak luput pula kaum muslim. Dengan aqidah sekulerisme yang melekat pada ideologi ini membuat kaum muslim pun akhirnya buta akan agama mereka. Islam hanya sekedar dikenal sebagai agama seputar Shalat, Zakat, Haji, berakhlak baik (termasuk pada orang kafir?! Akhirnya kekayaan alam negeri-negeri muslim ludes!), dan ibadah Maghdah lainnya. Padahal, Islam tak sesempit itu kawan. Jika kalian kenal baik ideologi Kapitalis yang katanya hebat itu, maka satu-satunya lawan sepadan ideologi ini bukan ideologi sesat Sosialis (Tuhan aja mereka gak kenal, parah?!). Namun, lawan sepadan buat si Kapitalis adalah satu-satunya ideologi yang benar yaitu ISLAM. Lho kok? Yup, kalian tidak salah dengar. Ideologi tangguh itu adalah Islam atau seperti yang dikatakan sama orang Barat sana, yakni Islam Politik. Jadi ceritanya Islam itu bukan hanya sederetan kumpulan ibadah ritual semata. But Islam lebih kompleks dari semua itu. Islam punya sekumpulan aturan & hukum dalam semua bidang kehidupan, mulai dari kita “Bangun Tidur” sampai “Bangun Negara”. Entah itu Politik, Ekonomi, Hukum, Pendidikan, Kesehatan dan bidang lainnya; semua udah komplit plit plit.
Coba aja buka Qur’an & tafsirnya surah Al-Anbiya: 107. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, melainkan dalam rangka rahmat Kami bagi seluruh alam dalam agama maupun dunia, sebab manusia dalam kesesatan dan kebingungan (Syaikh an-Nawawi Al Jawi dalam tafsir Marah Labid (Tafsir Munir) Juz II/47). Rahmat Allah SWT ini bukanlah berkaitan dengan pribadi Muhammad saw. sebagai manusia, tapi sebagai rasul yang diutus untuk membawa syari’at yang memang paling unggul dibandingkan aturan-aturan atau agama yang ada di dunia. Pengertian rahmatan lil ‘âlamîn itu terwujud dalam realitas kehidupan tatkala Muhammad Rasulullah saw. kemudian telah mengimplementasikan seluruh risalah Islam di bawah naungan sebuah Negara. Itulah KHILAFAH. So, masih gak percaya Islam itu juga ideologi? Bagi mereka juga yang masih merasa ‘tabu’ dengan Islam politik artinya pikiran mereka masih sempit, terkungkung. Calm down frends, bukannya mengejek tapi buktinya orang Barat yang notabene kaum kuffar itu saja percaya akan kekuatan & kebangkitan Islam, padahal mereka gak ber-Aqidah Islam lho!
Belum lagi, lebih mengherankan mereka yang seringkali juga mengatakan Khilafah itu utopis alias khayalan semata. Mereka yang notabene justru lebih banyak beragama Islam. Yang sehari-harinya mungkin rajin membaca Al-qur’an tapi seakan gak percaya sama ‘busyra’ Rasul: “…Akan tegak kembali Khilafah di atas manhaj Kenabian” (HR. Ahmad). Yang lucunya juga, justru kaum Barat yang kafir telah mengantisipasi sejak dini berita gembira dari Rasulullah ini. Salah satunya yang dirumuskan oleh NIC (National Intellegence Council) yang hasil penelitian mereka dibukukan dalam Mapping The Global Future (MGF), yang diterbitkan pada Desember 2004. NIC dengan segenap kemampuan dan energinya melakukan riset mendalam guna menilai possibilitas (kemungkinan) berdirinya kembali Khilafah akan benar-benar terjadi. Dalam riset itu, NIC memprediksi ada 4 skenario global yang bakal terjadi pada tahun 2020. Dimana pada poin ketiga: A New Chalipate digambarkan bagaimana identitas global yang didorong oleh Islam radikal bisa muncul. Sebuah Khilafah baru diproklamasikan dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah seperti: Timur Tengah, sebagian Afrika dan Asia yang pernah menjadi bagian Khilafah pada masa lalu. Khilafah pun tumbuh menjadi lawan dari ideologi yang ada.
Masih belum puas? Let’s listen their statements. Mantan Menlu Inggris (6 Oktober 2005), Charles Clark mengatakan ‘Tidak boleh ada negosiasi tentang penegakan kembali Khilafah. Tidak boleh ada negosiasi dalam upaya menerapkan hukum Syariah’. Ditambah lagi Komandan Pasukan AS di Timur Tengah, John Abizaid mengatakan ‘Mereka akan berusaha menegakkan kembali Khilafah untuk seluruh dunia Islam. Kita harus belajar dari apa yang mereka ingin lakukan dari mulut-mulut mereka sendiri’. Bahkan Mantan Presiden AS, George W. Bush mengatakan ‘Orang-orang militan itu percaya, dengan menguasai sebuah Negara atau kawasan, mereka akan bisa menyatukan kaum muslim, memungkinkan mereka menggulingkan semua pemerintahan moderat di kawasan tersebut, dan mendirikan sebuah Imperium Islam radikal yang meliputi kawasan Spanyol sampai ke Indonesia’. Jadi, tak heranlah jika kemudian kaum Barat kuffar ini begitu perhatian pada urusan-urusan kaum muslim di negeri-negeri mereka. Istilah kerennya “intervensi asing” di negeri-negeri muslim di dunia, termasuk Indonesia. Kaum kuffar ini terlalu takut akan bangkitnya kembali Imperium Islam yaitu Khilafah. Karena mereka sadar betul, dengan tegaknya Khilafah kembali maka riwayat mereka pun is dead, it’s over!
So, buat kalian yang masih takut dengan istilah Khilafah alias Negara Islam sudah saatnya mengganti cara berpikir dan bertindak yang selalu mengekor Barat Kuffar. Khilafah adalah sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kita, umat muslim. Ia ibarat ‘IBU’ yang mengayomi anak-anaknya. Ketika dia diruntuhkan pada 3 Maret 1924 silam, disitulah kaum muslim mulai hidup menderita bahkan tertindas di negerinya sendiri seperti hari ini. Persatuan yang dulunya berada dalam satu kepemimpinan global di masa Khilafah pun tergantikan menjadi nasionalisme, ajang pertumpahan darah sesama muslim hari ini. Saatnya menghentikan sikap acuh dan ego kita yang tak peduli dengan problematika umat hari ini. Apalagi ikut latah mengejek dan menghina para pejuang agama Allah, para pejuang Syariah & Khilafah. Kaum Barat kuffar saja yakin dan takut dengan apa yang mereka perjuangkan, mengapa sesama muslim justru berpecah belah? Bukankah kita dipersatukan satu Aqidah “Laa ilaaha illah Allah”, lantas kenapa Ideologi kita tidak satu, yaitu Islam? Gak seru kawan.
Do you know? With you or without you, ISLAM WILL RISE AGAIN! KHILAFAH WILL LEAD THE WORLD! So, ask your self: MAU JADI PEJUANG ATAU JADI PECUNDANG? Janji Allah dan Rasul-NYA pasti akan terpenuhi. Saatnya menyongsong era ‘Abad Emas Khilafah’ itu kembali. So, make your choice from now! ‘Cause LIFE IS CHOICE! Wallahu a’lam. (3SB)
“Innocence of Muslims”, Racikan Sampah Musuh-Musuh Allah!
Katanya, Islam adalah agama yang paling pesat berkembang di muka bumi. Katanya, jumlah umat muslim adalah yang paling banyak di dunia. Tapi, apa yang terjadi dengan umat ini? Wahai kaum muslim, wahai mahasiswa muslim di kampus hijau Makassar! Banggakah kalian dengan jumlah kaum muslim hari ini? Namun, tahukah kalian apa yang terjadi pada umat Islam hari ini?
Lagi dan lagi, kaum muslim dihina. Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah kembali dilecehkan melalui film “Innocence of Muslims” (IoM). Amarah umat terbaik ini kembali dipancing dengan pelecehan tak tanggung-tanggung pada sang pembawa risalah. Pelecehan pada manusia termulia, manusia terbaik yang pernah ada, Rasulullah Muhammad saw.
Akibat beredarnya film ini, amarah umat muslim di berbagai belahan dunia mulai memuncak. Aksi protes besar-besaran dan mengutuk terdengar dimana-mana. Di Mesir misalnya, aksi digelar di depan kedubes AS. Bendera AS diturunkan lalu disobek dan digantikan dengan bendera tauhid (bendera Islam) ‘laa ilaaha illa Allah’. Kasus serupa terjadi juga di Yaman, Tunisia. Panji-panji Allah berwarna hitam putih ini juga berkibar di berbagai penjuru dunia mulai dari Timur Tengah, Asia termasuk Indonesia dan Malaysia, Rusia, bahkan di jantung negara-negara Kapitalis Barat. Aksi protes kaum muslim ini memuncak di Libya. Demostran bahkan menembaki dan membakar gedung konsulat Amerika di sana. Korban yang terbunuh diantaranya Duta Besar J. Christopher Stevens (seorang diplomat karier dan salah satu diplomat paling berpengalaman di kawasan itu) beserta 3 orang rekannya. Walaupun hingga sekarang masih belum jelas oknum yang melakukan serangan itu (www.hizbut-tahrir.or.id).
Lagi dan lagi, kaum muslim dihina. Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah kembali dilecehkan melalui film “Innocence of Muslims” (IoM). Amarah umat terbaik ini kembali dipancing dengan pelecehan tak tanggung-tanggung pada sang pembawa risalah. Pelecehan pada manusia termulia, manusia terbaik yang pernah ada, Rasulullah Muhammad saw.
Akibat beredarnya film ini, amarah umat muslim di berbagai belahan dunia mulai memuncak. Aksi protes besar-besaran dan mengutuk terdengar dimana-mana. Di Mesir misalnya, aksi digelar di depan kedubes AS. Bendera AS diturunkan lalu disobek dan digantikan dengan bendera tauhid (bendera Islam) ‘laa ilaaha illa Allah’. Kasus serupa terjadi juga di Yaman, Tunisia. Panji-panji Allah berwarna hitam putih ini juga berkibar di berbagai penjuru dunia mulai dari Timur Tengah, Asia termasuk Indonesia dan Malaysia, Rusia, bahkan di jantung negara-negara Kapitalis Barat. Aksi protes kaum muslim ini memuncak di Libya. Demostran bahkan menembaki dan membakar gedung konsulat Amerika di sana. Korban yang terbunuh diantaranya Duta Besar J. Christopher Stevens (seorang diplomat karier dan salah satu diplomat paling berpengalaman di kawasan itu) beserta 3 orang rekannya. Walaupun hingga sekarang masih belum jelas oknum yang melakukan serangan itu (www.hizbut-tahrir.or.id).
Upaya Demonisasi (Setanisasi) Islam
Telah sejak lama memang kaum kafir berusaha membumihanguskan Islam dan para penganutnya. Bukan pertama kalinya upaya serupa mereka lakukan untuk menjelek-jelekkan agama Islam dan ajarannya. Tahun 2006 lalu, umat Islam memprotes karikatur kartun Denmark yang menghina Rasulullah SAW. Kemudian tahun 2010, seorang pendeta Florida, Terry Jones, secara terbuka menyerukan pembakaran Alquran pada ulang tahun kesembilan 9/11. Tentara AS pada Februari (2012) membakar secara sengaja 315 salinan materi keagamaan termasuk Alquran di penjara Bagram, Afghanistan. Penghinaan terhadap Alquran juga dilakukan di penjara-penjara kejam Amerika Serikat di Guantanamo. Bahkan hampir dalam waktu bersamaan beredarnya film ‘Innocence of Muslims’ ini, di Perancis kembali mempublikasi kartun Muhammad tanpa busana. Seakan mereka ingin semakin memperpanas suasana yang sudah panas (www.detiknews.com).
Dalam film ‘Innocence of Muslims’ sendiri, Rasulullah Muhammad saw digambarkan sebagai sosok yang suka penipu, lelaki hidung belang yang lemah dan gemar melakukan pelecehan seksual terhadap anak (pedofil). Sam Bacile si pembuat film tersebut merupakan warga California, Amerika Serikat (AS) keturunan Yahudi Israel. Film ini melibatkan 59 aktor dan 45 kru. Dengan bantuan dari 100 donatur Yahudi, Sam berhasil mengumpulkan dana lima juta dolar AS untuk pembuatan “Innocence of Muslims”. Dalam wawancaranya dengan media, Sam menyatakan sengaja membuat film itu. Menurutnya, dengan film ini, kelemahan Islam dapat diekspos ke seluruh dunia.
Tidak mengherankan karena jauh sebelumnya pada abad pertengahan, di Barat telah dikembangkan studi orientalisme tentang ‘demonisasi terhadap Islam’. Kajian ini dimotori oleh para cendikiawan Barat. Kebencian mereka terlihat jelas dengan julukan yang mereka berikan pada Nabi Muhammad yaitu “Mamed, Mawmet, Mahoun, Mahun, Mahomet, Mahon, Machmet” yang semua kata itu bermakna satu, yakni setan (devil).
Hingga sekarang upaya demonisasi terus bergulir diantaranya ada beberapa ide yang harus terus menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita, dan bolehnya suami memukul istri. Selain itu, salah satu tujuan utama orientalisme adalah menghancurkan kekhilafahan Islam lewat perang pemikiran dan budaya setelah mereka gagal dalam perang fisik. Cara yang sama mereka lakukan sekarang ini untuk membendung tegaknya kembali Khilafah Islam yang akan menerapkan seluruh syariah Islam. Program terkini mereka adalah deradikalisasi yang merupakan bagian dari paket War on Terrorism. Dalam program ini yang disebut radikal adalah mereka yang menyerukan syariah, khilafah, jihad fii sabilillah, anti penjajahan Barat, dan yang menginginkan diusirnya Zionis Yahudi dari Palestina. Jadi, dari sini sudah sangat jelas bahwa sejatinya dalam pandangan mereka, yang disebut ‘teroris’ itu sudah pasti Islam.
Telah sejak lama memang kaum kafir berusaha membumihanguskan Islam dan para penganutnya. Bukan pertama kalinya upaya serupa mereka lakukan untuk menjelek-jelekkan agama Islam dan ajarannya. Tahun 2006 lalu, umat Islam memprotes karikatur kartun Denmark yang menghina Rasulullah SAW. Kemudian tahun 2010, seorang pendeta Florida, Terry Jones, secara terbuka menyerukan pembakaran Alquran pada ulang tahun kesembilan 9/11. Tentara AS pada Februari (2012) membakar secara sengaja 315 salinan materi keagamaan termasuk Alquran di penjara Bagram, Afghanistan. Penghinaan terhadap Alquran juga dilakukan di penjara-penjara kejam Amerika Serikat di Guantanamo. Bahkan hampir dalam waktu bersamaan beredarnya film ‘Innocence of Muslims’ ini, di Perancis kembali mempublikasi kartun Muhammad tanpa busana. Seakan mereka ingin semakin memperpanas suasana yang sudah panas (www.detiknews.com).
Dalam film ‘Innocence of Muslims’ sendiri, Rasulullah Muhammad saw digambarkan sebagai sosok yang suka penipu, lelaki hidung belang yang lemah dan gemar melakukan pelecehan seksual terhadap anak (pedofil). Sam Bacile si pembuat film tersebut merupakan warga California, Amerika Serikat (AS) keturunan Yahudi Israel. Film ini melibatkan 59 aktor dan 45 kru. Dengan bantuan dari 100 donatur Yahudi, Sam berhasil mengumpulkan dana lima juta dolar AS untuk pembuatan “Innocence of Muslims”. Dalam wawancaranya dengan media, Sam menyatakan sengaja membuat film itu. Menurutnya, dengan film ini, kelemahan Islam dapat diekspos ke seluruh dunia.
Tidak mengherankan karena jauh sebelumnya pada abad pertengahan, di Barat telah dikembangkan studi orientalisme tentang ‘demonisasi terhadap Islam’. Kajian ini dimotori oleh para cendikiawan Barat. Kebencian mereka terlihat jelas dengan julukan yang mereka berikan pada Nabi Muhammad yaitu “Mamed, Mawmet, Mahoun, Mahun, Mahomet, Mahon, Machmet” yang semua kata itu bermakna satu, yakni setan (devil).
Hingga sekarang upaya demonisasi terus bergulir diantaranya ada beberapa ide yang harus terus menerus diangkat untuk menjelekkan citra Islam: perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita, dan bolehnya suami memukul istri. Selain itu, salah satu tujuan utama orientalisme adalah menghancurkan kekhilafahan Islam lewat perang pemikiran dan budaya setelah mereka gagal dalam perang fisik. Cara yang sama mereka lakukan sekarang ini untuk membendung tegaknya kembali Khilafah Islam yang akan menerapkan seluruh syariah Islam. Program terkini mereka adalah deradikalisasi yang merupakan bagian dari paket War on Terrorism. Dalam program ini yang disebut radikal adalah mereka yang menyerukan syariah, khilafah, jihad fii sabilillah, anti penjajahan Barat, dan yang menginginkan diusirnya Zionis Yahudi dari Palestina. Jadi, dari sini sudah sangat jelas bahwa sejatinya dalam pandangan mereka, yang disebut ‘teroris’ itu sudah pasti Islam.
Standar Ganda “Wajah Liberalisme” Barat
Siapapun yang menyaksikan film ‘Innocence of Muslims’ bisa langsung mengetahui bahwa film tersebut tidak lebih dari sekedar tayangan sampah. Tak bermutu dan profesional sama sekali. Setting-nya sendiri sangat buruk sehingga bisa tergambar seperti apa kedangkalan mutu sutradaranya. Belum lagi para pemainnya rata-rata pemain amatiran. Tapi lepas dari semua itu, ada hal yang harusnya membuat kita sadar disini.
Amatlah wajar jika munculnya film ‘IoM’ ini memicu reaksi keras dari kaum muslim di berbagai belahan dunia. Itulah memang seharusnya reaksi kaum muslim ketika nabi mereka dihina. Nabi Muhammad saw sebagai manusia termulia sekaligus penyelamat manusia ini sungguh tak layak dihina oleh manusia hina semacam Sam Bacile dan kawan-kawannya. Hanya saja, terjadi reaksi berkebalikan dengan para penguasa di negeri-negeri muslim khususnya Indonesia. Yang mereka lakukan adalah tayangan ‘basi’, sekedar mengutuk seperti biasanya. Tak lebih dari itu.
Presiden Mesir misalnya, Muhammad Mursi, seorang yang disebut sebagai seorang ‘Revolusioner Islam’, hanya menghias bibir dengan mengutuk film ini. Perdana Menterinya, Hisham Qandil, mengatakan “Tidak dapat diterima untuk menghina Nabi kami”. Namun, tiada tindakan positif atau memutuskan hubungan diplomatik, bahkan Hisham Qandil mengatakan, hubungan antara AS dan Mesir adalah “hubungan yang kita butuhkan untuk menjadi lebih kuat yang didasarkan pada kepentingan bersama dan menghormati kedaulatan”. Di Indonesia, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Jazuli Juwaini turut berkata "Amerika harus mendidik dan menertibkan warganya agar bisa menghormati keyakinan, perbedaan dan demokrasi, dan mengamalkannya". Dia pun mendukung upaya pro aktif pemerintah terhadap Amerika dan negara lainnya maupun melalui PBB agar menghentikan tindakan-tindakan penghinaan terhadap pemeluk agama tertentu. Amerika dapat belajar dari Indonesia yang menerapkan demokrasi Pancasila.
Padahal, siapa pun yang matanya melek hari ini pasti bisa melihat topeng buruk rupa di balik demokrasi. Lembaga-lembaga international semisal PBB dan yang lainnya notabene terikat dengan kebijakan Barat sendiri. Bisa kita lihat akhirnya lembaga ini hanya sekedar label untuk menipu kaum muslim bahwa mereka (Barat) peduli dengan urusan kaum muslim. Belum lagi, demokrasi semakin hari wajah aslinya kian terlihat bahwa ia tak lebih hanya sekedar wacana tanpa aplikasi. Buktinya, kebebasan (liberalisme) yang digaungkan akan tajam jika yang tersakiti adalah kaum minoritas (non muslim) atau kafir Barat. Namun, tiba-tiba kebebasan itu akan ompong jika yang disakiti adalah kaum muslim. Tak ada lagi HAM, kebebasan berbicara jika yang jadi korban adalah umat Islam. Bahkan, lebih dari itu jika umat Islam berusaha membela dirinya dan mengamalkan ajaran Islam yang mulia, justru mereka mendapat gelar baru yaitu “teroris”.
Siapapun yang menyaksikan film ‘Innocence of Muslims’ bisa langsung mengetahui bahwa film tersebut tidak lebih dari sekedar tayangan sampah. Tak bermutu dan profesional sama sekali. Setting-nya sendiri sangat buruk sehingga bisa tergambar seperti apa kedangkalan mutu sutradaranya. Belum lagi para pemainnya rata-rata pemain amatiran. Tapi lepas dari semua itu, ada hal yang harusnya membuat kita sadar disini.
Amatlah wajar jika munculnya film ‘IoM’ ini memicu reaksi keras dari kaum muslim di berbagai belahan dunia. Itulah memang seharusnya reaksi kaum muslim ketika nabi mereka dihina. Nabi Muhammad saw sebagai manusia termulia sekaligus penyelamat manusia ini sungguh tak layak dihina oleh manusia hina semacam Sam Bacile dan kawan-kawannya. Hanya saja, terjadi reaksi berkebalikan dengan para penguasa di negeri-negeri muslim khususnya Indonesia. Yang mereka lakukan adalah tayangan ‘basi’, sekedar mengutuk seperti biasanya. Tak lebih dari itu.
Presiden Mesir misalnya, Muhammad Mursi, seorang yang disebut sebagai seorang ‘Revolusioner Islam’, hanya menghias bibir dengan mengutuk film ini. Perdana Menterinya, Hisham Qandil, mengatakan “Tidak dapat diterima untuk menghina Nabi kami”. Namun, tiada tindakan positif atau memutuskan hubungan diplomatik, bahkan Hisham Qandil mengatakan, hubungan antara AS dan Mesir adalah “hubungan yang kita butuhkan untuk menjadi lebih kuat yang didasarkan pada kepentingan bersama dan menghormati kedaulatan”. Di Indonesia, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Jazuli Juwaini turut berkata "Amerika harus mendidik dan menertibkan warganya agar bisa menghormati keyakinan, perbedaan dan demokrasi, dan mengamalkannya". Dia pun mendukung upaya pro aktif pemerintah terhadap Amerika dan negara lainnya maupun melalui PBB agar menghentikan tindakan-tindakan penghinaan terhadap pemeluk agama tertentu. Amerika dapat belajar dari Indonesia yang menerapkan demokrasi Pancasila.
Padahal, siapa pun yang matanya melek hari ini pasti bisa melihat topeng buruk rupa di balik demokrasi. Lembaga-lembaga international semisal PBB dan yang lainnya notabene terikat dengan kebijakan Barat sendiri. Bisa kita lihat akhirnya lembaga ini hanya sekedar label untuk menipu kaum muslim bahwa mereka (Barat) peduli dengan urusan kaum muslim. Belum lagi, demokrasi semakin hari wajah aslinya kian terlihat bahwa ia tak lebih hanya sekedar wacana tanpa aplikasi. Buktinya, kebebasan (liberalisme) yang digaungkan akan tajam jika yang tersakiti adalah kaum minoritas (non muslim) atau kafir Barat. Namun, tiba-tiba kebebasan itu akan ompong jika yang disakiti adalah kaum muslim. Tak ada lagi HAM, kebebasan berbicara jika yang jadi korban adalah umat Islam. Bahkan, lebih dari itu jika umat Islam berusaha membela dirinya dan mengamalkan ajaran Islam yang mulia, justru mereka mendapat gelar baru yaitu “teroris”.
Khilafah Islam, Satu-satunya Penjaga Kaum Muslim
Saudaraku sesama muslim, telah sangat nyata kebencian musuh-musuh Islam kepada kita ‘Umat Islam’. Mereka tak akan pernah berhenti berusaha untuk menghancurkan kemuliaan Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, umat Islam harusnya waspada betul akan hal ini. mereka tidak boleh lengah apalagi ‘pasrah’ dengan keadaan ini. Karena umat Islam adalah ‘Khairu Ummah’, umat terbaik pilihan Allah.
Keberanian kaum kafir Barat semakin menanjak dengan menghina terang-terangan Nabi Muhammad saw yang mulia. Dan satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh untuk menjaga kehormatan Allah, Rasulullah Muhammad saw, dan juga kaum muslim sendiri adalah kembali pada “Syariah Islam”. Dalam Islam, menghina Nabi saw adalah tindakan kekafiran. Bahkan pelaku tindakan ini wajib dibunuh, meskipun dia bertaubat, dan bahkan meskipun yang menghina itu orang kafir. Namun, ini tak akan mampu terlaksana tanpa adanya Daulah “Khilafah Islamiyah” sebagai Negara yang akan memberikan sanksi dan melindungi umat yang bernaung di bawahnya. Maka, sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari apa yang terjadi hari ini. Allah SWT berfirman:
}إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ{
“Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah” (TQS al-Anbiya’ [21]: 106). Wallahu a’lam. (3SB)
Saudaraku sesama muslim, telah sangat nyata kebencian musuh-musuh Islam kepada kita ‘Umat Islam’. Mereka tak akan pernah berhenti berusaha untuk menghancurkan kemuliaan Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, umat Islam harusnya waspada betul akan hal ini. mereka tidak boleh lengah apalagi ‘pasrah’ dengan keadaan ini. Karena umat Islam adalah ‘Khairu Ummah’, umat terbaik pilihan Allah.
Keberanian kaum kafir Barat semakin menanjak dengan menghina terang-terangan Nabi Muhammad saw yang mulia. Dan satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh untuk menjaga kehormatan Allah, Rasulullah Muhammad saw, dan juga kaum muslim sendiri adalah kembali pada “Syariah Islam”. Dalam Islam, menghina Nabi saw adalah tindakan kekafiran. Bahkan pelaku tindakan ini wajib dibunuh, meskipun dia bertaubat, dan bahkan meskipun yang menghina itu orang kafir. Namun, ini tak akan mampu terlaksana tanpa adanya Daulah “Khilafah Islamiyah” sebagai Negara yang akan memberikan sanksi dan melindungi umat yang bernaung di bawahnya. Maka, sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari apa yang terjadi hari ini. Allah SWT berfirman:
}إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ{
“Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah” (TQS al-Anbiya’ [21]: 106). Wallahu a’lam. (3SB)
Rabu, 31 Oktober 2012
UNTITLE
Hidup itu perjuangan...that’s right!
Hidup itu persaingan...that’s right too!
Hidup itu perjuangan. Hanya orang-orang yang mau berjuanglah yang akan bisa bertahan hidup. Jika tidak berjuang, maka kau ibaratnya hanya seonggok daging yang terisi sekumpulan darah, tak lebih dari itu. Ibaratnya jasad dan nyawa tapi tak bergerak. Mau dibilang ‘hidup’ tapi nyatanya ‘mati’. Mau dibilang ‘mati’ tapi nyatanya ‘hidup’. Akhirnya seperti apa, sudah bisa ditebak. Tak mungkin kau akan menjadi ‘orang besar’. Tinggal tunggu waktu saja, kau akan musnah ditelan masa. Saat dimana jasadmu lapuk dimakan tanah atau nyawamu dicabut oleh Sang Pemilik Nyawa itu. Selebihnya kau akan dilupakan begitu saja oleh dunia yang hanya mau mengingat mereka yang terkenal atau dianggap pahlawan. Sementara kau, lihatlah dirimu yang memang tak ada yang pantas dikenang darimu. Apa yang mau dikenang jika kau tak pernah berjuang mengukir kenangan pada dunia. Dunia yang penuh perjuangan.
Hidup itu persaingan. Hanya orang-orang yang siap bersainglah yang akan bisa bertahan hidup. Jika tidak bersaing maka kau laksana singa pesakitan yang hidup di tengah alam liar, tak lebih dari itu. Ibaratnya kau seorang pelari yang punya nomor peserta tapi tak ikut berlari sekencang mungkin saat peluit ditiup sang wasit. Mau dibilang ‘pelari’ tapi nyatanya ‘tak ikut berlari’. Mau dibilang ‘bukan pelari’ tapi nyatanya ‘punya nomor peserta’. Hasilnya seperti apa, sudah bisa diterka. Tak mungkin kau akan menjadi ‘pemenang’. Tinggal menghitung waktu saja, kau akan tersingkir dengan sendirinya. Saat dimana peserta lainnya sudah tiba di garis finish atau tatapan kecewa penonton seraya mengejek tertuju padamu. Selebihnya, kau hanya akan ditertawakan oleh dunia yang takkan rela memandang mereka yang bermental kerupuk atau dijuluki pecundang sejati. Cobalah lihat bagaimana dengan dirimu, yang memang tak punya sesuatu yang pantas dibanggakan darimu. Apa yang mau dibanggakan jika kau tak berani bersaing dalam menghadapi dunia. Dunia yang penuh persaingan.
Hidup itu persaingan...that’s right too!
Hidup itu perjuangan. Hanya orang-orang yang mau berjuanglah yang akan bisa bertahan hidup. Jika tidak berjuang, maka kau ibaratnya hanya seonggok daging yang terisi sekumpulan darah, tak lebih dari itu. Ibaratnya jasad dan nyawa tapi tak bergerak. Mau dibilang ‘hidup’ tapi nyatanya ‘mati’. Mau dibilang ‘mati’ tapi nyatanya ‘hidup’. Akhirnya seperti apa, sudah bisa ditebak. Tak mungkin kau akan menjadi ‘orang besar’. Tinggal tunggu waktu saja, kau akan musnah ditelan masa. Saat dimana jasadmu lapuk dimakan tanah atau nyawamu dicabut oleh Sang Pemilik Nyawa itu. Selebihnya kau akan dilupakan begitu saja oleh dunia yang hanya mau mengingat mereka yang terkenal atau dianggap pahlawan. Sementara kau, lihatlah dirimu yang memang tak ada yang pantas dikenang darimu. Apa yang mau dikenang jika kau tak pernah berjuang mengukir kenangan pada dunia. Dunia yang penuh perjuangan.
Hidup itu persaingan. Hanya orang-orang yang siap bersainglah yang akan bisa bertahan hidup. Jika tidak bersaing maka kau laksana singa pesakitan yang hidup di tengah alam liar, tak lebih dari itu. Ibaratnya kau seorang pelari yang punya nomor peserta tapi tak ikut berlari sekencang mungkin saat peluit ditiup sang wasit. Mau dibilang ‘pelari’ tapi nyatanya ‘tak ikut berlari’. Mau dibilang ‘bukan pelari’ tapi nyatanya ‘punya nomor peserta’. Hasilnya seperti apa, sudah bisa diterka. Tak mungkin kau akan menjadi ‘pemenang’. Tinggal menghitung waktu saja, kau akan tersingkir dengan sendirinya. Saat dimana peserta lainnya sudah tiba di garis finish atau tatapan kecewa penonton seraya mengejek tertuju padamu. Selebihnya, kau hanya akan ditertawakan oleh dunia yang takkan rela memandang mereka yang bermental kerupuk atau dijuluki pecundang sejati. Cobalah lihat bagaimana dengan dirimu, yang memang tak punya sesuatu yang pantas dibanggakan darimu. Apa yang mau dibanggakan jika kau tak berani bersaing dalam menghadapi dunia. Dunia yang penuh persaingan.
Langganan:
Postingan (Atom)