Senin, 05 November 2012

Sebuah Cerpen

BINGKISAN MUNGIL DALAM BAHANA TAKBIR

Aroma khas obat-obatan mulai terasa menyengat di ruangan itu. Beberapa petugas berseragam putih-putih tampak mondar-mandir menyita pandangan. Di depan sebuah loket tempat pengambilan obat, tampak seorang gadis tengah berdiri menunggu. Wajahnya biasa-biasa saja, tingginya juga rata-rata, kulitnya agak putih dan wajahnya bersih dari makhluk bernama ‘jerawat’. Tapi yang menarik perhatian adalah tubuhnya yang terbalut lengkap dengan busana sejenis gamis dan kerudung yang panjangnya hingga perut, serta tak luput pula kaos kaki. Dari tadi pandangan gadis itu tak lepas mengamati segala hal yang berada di sekitarnya. Dia sama sekali tak menyangka akan berada di tempat seperti ini lagi, tempat yang dulu amat familiar dengannya, tempat dimana orang-orang sakit dirawat di dalamnya.
“Rifdah, ayo pergi! Obatnya sudah ayah ambil,” ujar seorang bapak-bapak yang usianya hampir setengah baya membuyarkan lamunan gadis itu.
Gadis yang bernama Rifdah itu mengangguk dan mengikuti langkah Pak Absyar, ayahnya menuju ruangan yang di depannya tertera label “Intensif Unit Care” alias ICU.
Begitu masuk ke ruangan itu, Rifdah tertegun memandangi sosok renta yang teronggok tak berdaya di salah satu bangsal itu. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan berbagai peralatan medis yang terpasang dengan lengkap.
Pikiran Rifdah mulai berkelana ke hari kemarin, saat nenek Rahimah, neneknya yang amat disayanginya itu tiba-tiba terkena serangan tekanan darah tinggi. Dia yang saat itu tengah asyik menyapu di lantai dua rumahnya tak mendengar hiruk pikuk yang terjadi di bawah. Saat dia turun, dia kaget mendapati semua penghuni rumahnya sudah berkumpul di kamar depan, di kamar kakek dan neneknya. Lebih kaget lagi saat dia tiba di kamar itu, matanya seakan tak percaya dengan yang dilihatnya. Di sana, di samping kakeknya yang terbaring lumpuh karena stroke, terbaring pula neneknya yang sudah setengah sadar. Bibirnya kelu untuk berkata-kata ketika dia telah mengukur tekanan darah neneknya yang ternyata sangat tinggi, yakni 260 mmHg. Kondisi neneknya semakin memburuk ketika malamnya hingga pagi ini, sosok renta itu pun dilarikan ke rumah sakit umum yang berada di kota. Parahnya karena sudah dua hari di RS, tapi neneknya belum pernah sadarkan diri sama sekali.
Waktu kembali bergulir dan pagi hari pun menyapa. Pagi buta itu dimanfaatkan oleh Rifdah untuk berjalan-jalan di sekitar RS. Hitung-hitung sambil refreshing sejenak. Sebenarnya dia sedang mencari kamar kecil, dia ingin membasuh wajahnya agar lebih segar. Agak lama berkeliling, yang terpampang di hadapannya kini justru sebuah musholla mungil yang membuat damai hati bagi yang memandang. Dia pun segera ke tempat wudhu dan membasuh wajahnya. Rasa segar pun menyelimutinya dalam sekejap.
Sayup-sayup terdengar gema takbir membahana. Saat itu matahari telah tersenyum lembut di atas awan sana. Rifdah pun merasakan haru yang bercampur aduk. Bahagia karena hari Idul Fitri kembali menyapa dirinya dan umat muslim yang lain, sekaligus sedih karena justru dia menghabiskan masa kemenangan itu di RS. Sebelum dia bermandi air mata di depan musholla itu, Rifdah buru-buru kembali ke ruang ICU. Dia agak kaget begitu mendapati tak ada seorang pun di ruangan itu, bahkan para perawat pun tak terlihat batang hidungnya. Terlebih lagi karena di ruangan itu hanya ada satu pasien, yaitu neneknya. Pasalnya, satu pasien meninggal semalam dan pasien yang satunya telah pindah ke ruang perawatan. Agak ragu Rifdah pun melangkah masuk.
Entah apa yang terjadi, Rifdah sendiri bahkan tak bisa mendeskripsikan lewat untaian kata. Yang jelas tiba-tiba dia merasakan hawa aneh yang luar biasa. Bersamaan dengan itu bulu kuduknya pun merinding. Untuk pertama kalinya dia merasakan ketakutan yang tanpa dia inginkan muncul begitu saja. Padahal dia ingat waktu dinas di suatu RS, dia pernah berjaga malam sendirian di ruang ICU yang di sampingnya terdapat kamar jenazah, tapi tak pernah ada rasa takut menghinggapinya seperti saat ini.
Belum lagi sampai di bangsal neneknya, Rifdah memutar haluan dan mencari ibunya berhubung hanya mereka berdua yang jaga pagi ini. Yang lainnya pergi shalat id. Beberapa menit kemudian, Rifdah masuk kembali bersama bu Zahidah, ibunya. Rifdah agak heran mendapati sekarang sudah ada dua orang perawat di sana. Sepertinya tadi itu memang uji nyali untuknya. Mereka berdua pun duduk di samping bangsal nenek Rahimah.
Sang surya semakin tinggi dari peraduannya. Sejak tadi sudah banyak keluarga maupun tetangga Rifdah yang berkunjung membesuk nenek Rahimah. Beberapa menit berlalu, Rifdah kembali membaca surah Yasin seperti dini hari tadi. Entah ayat ke berapa, dia melihat tetesan bening mengalir kembali di sudut mata neneknya walau hanya satu tetes. Tak lama kemudian, tekanan darah nenek Rahimah semakin menurun hingga angka 0.
Rifdah mulai panik dan memanggil perawat.
“Maaf, dik, ibu. Sebaiknya kalian membacakan syahadat untuk nenek ini” ucap perawat itu.
Bibi Uzdah, anak ketiga nenek Rahimah menjerit keras dan menangis sejadi-jadinya. “Ibu…ibuuu…tidak..ibuuu!!” erangnya.
Rifdah yang tersadar akan itu amat kaget tapi dia langsung beristighfar dan membisikkan dua kalimat syahadat di telinga neneknya, sementara air mata gadis itu mulai bercucuran. Beberapa menit kemudian, terbebaslah jua ruh nenek Rahimah dari jasadnya.
Semua rentetan peristiwa yang terjadi masih seperti mimpi bagi Rifdah. Neneknya dikebumikan ba’da shalat Jumat tadi. Satu hal yang membuat hati Rifdah agak tenang karena neneknya meninggal dengan tenang, ditambah lagi hari meninggalnya bertepatan dengan dua hari baik yakni hari raya umat Islam dan hari Jumat. Subhanallah, gumam Rifdah.
Malamnya, bertepatan dengan hari ta’siyah neneknya, kembali Rifdah seolah jadi perhatian. Pasalnya, dia tetap ngotot memakai jilbab (gamis, red.) dan kerudung plus kaos kaki lengkap walaupun berada di dalam rumah. Tapi Rifdah memilih cuek saja dengan pandangan mereka dan tetap bersikap ramah karena dia yakin yang dilakukannya adalah benar. Pakaian yang dikenakannya sesuai dengan perintah Allah dalam surah Al-Ahzab: 59 dan An-Nur: 31.
Hingga akhirnya ketika masuk dapur, Rifdah kaget dengan kesibukan tetangga-tetangga rumahnya yang mempersiapkan sesuatu. Rifdah jadi curiga dibuatnya. Di depannya terlihat ada beras dalam ukuran tertentu dimasak dalam panci kecil. Selain itu, ada air dalam gelas yang agak tinggi, kelapa, gula, dan bahan-bahan lain. Rifdah memperhatikan dengan saksama. Tiba-tiba darahnya bergejolak, dia teringat akan adat-adat di kampungnya yang seringkali amat dekat dengan syirik. Dia pun memberanikan diri bertanya.
“Maaf bu, untuk apa semua bahan itu?” tanya Rifdah sopan.
“Oh, ini untuk persiapan acara ta’siyah nenekmu. Sudah seperti ini memang kebiasaan dan adat di kampung ini” jawab bu Laela, salah satu tetangga rumah paling dekat keluarga Rifdah. Bu Laela sendiri mempunyai anak perempuan juga yang dulu pernah sekelas dengan Rifdah waktu SMP tapi kemudian berhenti sekolah dan belakangan tersiar kabar dia telah MBA (Married by Accident), naudzubillah. Belum lagi penampilan bu Laela juga kadang agak terbuka cara berpakaiannya membuat Rifdah risih jika sedang menyapu di halaman rumah.
Rifdah diam tapi dalam hatinya dia memberontak. Dia tak rela neneknya di akhir hidupnya justru dibebankan dosa lagi oleh tetangga-tetangganya ini.
“Maaf, kenapa harus pakai begituan segala?” tanya Rifdah kembali.
“Wah, memang sudah begini adatnya. Sudah sejak dulu seperti ini. Orang-orang yang meninggal di kampung ini juga begitu” jawab bu Laela lagi mewakili ibu-ibu yang lain.
Tuh kan? batin Rifdah. Dia sudah menduga bahwa ini pasti budaya turun-temurun nenek moyang lagi. Inilah memang kondisi umat Islam yang terjebak pada taqlid (budaya ikut-ikutan) buta. Mereka melakukan perbuatan bukan karena paham hukum Syara’ tapi karena itu sudah budaya turun-temurun dari moyangnya mereka.
“Maaf, sekali lagi bu. Tapi saya rasa ibu-ibu tidak perlu melakukan itu. Tidak perlu ada pelaksanaan adat-adat seperti ini” tegas Rifdah, dia agak kesal juga sebenarnya.
“Hei, ini untuk nenekmu sendiri. Kenapa kau menghalang-halanginya? Lagipula semua orang desa juga melakukan hal yang sama. Kau tidak kasihan pada nenekmu?” tegur bu Laela.
“Justru karena saya kasihan pada nenek saya, makanya saya tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi” ujar Rifdah datar.
Mereka diam sejenak. Dalam hati, Rifdah sempat ciut juga. Masalahnya dia berhadapan dengan ibu-ibu di kampungnya, bukan remaja ataupun dewasa yang sebaya dengannya. Rifdah sendiri bukannya tak menyadari sorotan sinis dari beberapa pasang mata ibu-ibu yang ada di depannya. Tapi Rifdah memilih tetap keukeuh duduk di tangga tanpa membantu sedikit pun sembari menatap ibu-ibu yang lagi sibuk itu.
Mata Rifdah menelusuri ruangan dapur itu mencari sosok ibunya, dia butuh bantuan tenaga. Rifdah hanya melihat ada bibi Hasinah, adik ayahnya yang sedang mempersiapkan kue untuk para tamu. Dalam hati, kembali Rifdah berharap ada keluarganya yang membantunya.
Rifdah menghela napas sejenak sebelum berbicara lagi.
“Saya tidak bermaksud menentang ibu-ibu semua. Tapi setahu saya, dalam Islam tidak ada perintah yang seperti ini. Belum lagi adat-adat kampung yang biasanya berasal dari nenek moyang justru kadang malah jadi syirik..” jelas Rifdah setenang mungkin.
“Bukannya saya sok pintar, bu. Tapi Allah sendiri sudah mengatakan dalam kitab Al-qur’an surah Al-A’raaf ayat 28 yang menegaskan bahwa apakah manusia itu apabila melakukan suatu perbuatan keji dan mereka ditanya tentang perbuatannya itu, mereka menjawab bahwa ini berasal dari nenek moyang kami dan Allah memerintahkan seperti itu. Padahal Allah sama sekali tidak pernah memerintahkan yang demikian” lanjut Rifdah.
Ibu-ibu itu terdiam. Rifdah sendiri tak bisa menebak apa yang ada di hati mereka masing-masing tapi dia masih bisa merasakan bahwa sebagian dari mereka tak terima penentangannya.
“Iya, benar itu. Saya rasa juga dalam Islam tidak ada hal yang seperti itu” sahut bibi Hasinah tiba-tiba di antara mereka.
Rifdah agak bernapas lega mendengarnya. Dia segera keluar mencari ibunya dan memberitahu hal yang terjadi di dapur. Rifdah juga menyampaikan bahwa dia tak setuju ada adat seperti itu. Bisa-bisa nanti neneknya akan terbebani di akhirat sana.
“Lalu, dimana ibu-ibu itu sekarang?” tanya bu Zahidah.
“Masih di belakang bu” jawab Rifdah.
Mereka berdua segera bergerak menuju dapur.
“Maaf ibu-ibu sekalian, saya harap tidak ada lagi perdebatan di antara kita. Ini permintaan dari almarhumah ibu saya bahwa jika dia meninggal, jangan ada adat-adat yang dilakukan dalam penyelenggaraan kematiannya, termasuk ta’siyah seperti ini” terang bu Zahidah.
Ibu-ibu itu pun bubar seketika dan berjalan keluar. Rifdah sendiri kaget sekaligus senang mendengar perkataan ibunya. Berulang kali dia bersyukur dalam hati. Dengan semangat dia membereskan semua peralatan yang tadi disiapkan oleh ibu-ibu itu. Saat menyimpan kembali gelas yang tadinya disiapkan ibu-ibu itu, Rifdah masih sempat berpapasan dengan bu Laela. Rifdah melihat masih ada raut ketidaksukaan di wajah tetangganya itu, tapi bagaimanapun Rifdah tidak rela ada pelanggaran hukum syara’ malam itu.
Besok malamnya, keadaan rumah Rifdah sekeluarga sangat sepi. Padahal malam itu adalah malam ta’siyah kedua untuk nenek Rahimah. Pikiran Rifdah flash back  ke kejadian kemarin malam. Dia terngiang kata-kata ibunya. Dia sama sekali tak menyangka bahwa ternyata neneknya sudah mempersiapkan diri menyambut kematiannya dan tak ingin ada pelanggaran hukum Allah di sana. Rifdah pun kembali teringat bahwa beberapa waktu yang lalu memang neneknya seringkali bertanya tentang agama pada cucunya itu. Apalagi sejak Rifdah resmi diketahui oleh keluarganya bahwa dia sering ikut-ikut kajian Islam di kampus.
“Nak, bagaimana pendapatmu tentang adat baca-baca dan adat-adat lain yang biasa dilakukan masyarakat kampung kita?” tanya nenek Rahimah waktu itu.
 “Yang Rifdah pahami sih nek, adat atau budaya itu boleh-boleh saja dilakukan asal tidak bertentangan dengan hukum Islam. Karena masalahnya hari ini rata-rata adat-istiadat dan budaya nenek moyang itu kebanyakan jatuhnya ke syirik padahal itu adalah dosa terbesar di sisi Allah. Dan inilah yang terjadi pada kaum muslim hari ini” jawab Rifdah.
“Jadi yang biasa kakek dan nenek lakukan dulu itu dosa ya? Padahal dulu kami sering beri sesajen begitu di pohon-pohon atau kuburan. Kakekmu juga itu nak, pakai baca-baca (semacam jimat) di tubuhnya” terang nenek Rahimah lagi.
Rifdah menghela napas dibuatnya.
“Ya, jika melanggar perintah Allah, dosa dong nek. Apalagi sesajen begitu, kita jadi menduakan Allah kan, padahal Allah sebaik-baik tempat meminta. Terus nek, kalau kakek memang pakai baca-baca, ada baiknya tolong nenek nasehati kakek ya supaya melepasnya dan memohon ampun pada Allah. Kasihan nanti di akhirat nek. Jadi, kita harus bertobat dari sekarang sebelum ajal menjemput” ucap Rifdah akhirnya.
Dan hari ini, Rifdah sangat bersyukur karena ternyata dakwahnya pada neneknya tempo hari sudah terlihat efeknya. Dia sangat bersyukur neneknya ternyata mendengarkan nasehat-nasehat dakwahnya dulu.
“Riifdaaah!” panggilan bu Zahidah membuyarkan lamunan Rifdah. Tergopoh-gopoh dia segera beranjak ke tempat ibunya memanggil.
“Bantu ibu, ambil kue-kue di belakang!” pinta bu Zahidah.
“Iya bu” jawab Rifdah lalu bergegas ke belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka sekeluarga duduk santai di ruang tamu. Biasanya ruangan itu akan penuh oleh tamu wanita, sementara tamu laki-laki tempatnya di halaman rumah. Namun, malam ini ruang tamu itu hanya diisi oleh Rifdah dan keluarganya.
“Lihatlah nak, beginilah kondisi orang-orang di kampung kita. Mereka itu punya emosional yang tinggi. Lihatlah, karena mereka tersinggung dengan penentanganmu semalam makanya sekarang tak satupun dari ibu-ibu itu yang datang” keluh bu Zahidah. Ekspresinya tampak begitu sedih.
Rifdah diam sejenak. Dia tahu akan seperti ini jadinya. Ulahnya semalam memang akan menimbulkan konsekuensi seperti yang terjadi sekarang.
“Sudahlah bu, jangan bersedih lagi. Bukankah nenek sendiri juga bahkan tak setuju ada adat-adat seperti itu. Jadi, ibu jangan sedih lagi ya” bujuk Rifdah.
“Benar juga sih nak,  tapi lihatlah ibu-ibu itu. Mereka egois sekali sampai tidak ada satu pun yang datang malam ini” ujar bu Zahidah masih kesal.
“Sabar bu, entar juga mereka akan sadar sendiri. Yang penting kan kita sudah menyampaikan alasan kita menolak perbuatan mereka. Jelasnya, Rifdah tidak ridho kalau mereka melakukan pelanggaran hukum syara’ di rumah ini, bu!” tegas Rifdah.
Akhirnya berita itu sampai juga di telinga Pak Absyar, ayah Rifdah. Hal ini kemudian disampaikan kepada ustadz yang mengisi pengajian ta’siyah malam itu. Seperti yang dijelaskan Rifdah, akhirnya ustadz itu menyinggung perbuatan ibu-ibu yang tidak satu orang pun datang ke acara malam ini. Tak lupa pula ustadz itu menyampaikan bahwa adat-adat yang ada di kampung banyak yang terseret ke arah syirik.
Malam selanjutnya, kembali berbondong-bondonglah ibu-ibu tetangga rumah Rifdah berkunjung. Mereka berusaha bersikap biasa walau tampaknya tetap ada yang berubah suasananya. Keluarga Rifdah sendiri juga berusaha bersikap normal menanggapi hal tersebut. Di sudut ruangan Rifdah tersenyum. Lidahnya tak henti mengucap syukur.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Moga nenek hamba tenang di sisi-Mu. Ampuni hamba yang belum maksimal berdakwah di jalan-Mu. Apalagi di masyarakat, kadang hamba masih takut menyampaikan kebenaran. Tapi, kuatkan hamba agar suatu hari hamba bisa lebih maksimal lagi dalam menegakkan kalimah dan hukum-Mu di muka bumi” lirih Rifdah.
Hari Raya Idul Fitri telah berlalu 3 bulan lalu. Menyisakan kenangan pahit tapi manis untuk Rifdah. Hingga saat ini gadis itu masih meneguhkan hatinya dari perasaan kehilangan satu-satunya nenek yang sangat dekat dengannya. Tapi dibalik semua itu, Rifdah tiada henti bersyukur dibalik semua ujian yang menyertainya, ada bingkisan mungil yang dititipkan Allah padanya di hari raya kemarin. Dia menjadi lebih kuat, bijak, dan berani hari ini.
Alunan syair “Hold my Hand”-nya Maher Zain bergema dari HP Rifdah. Ternyata sepupunya yang menelepon.
“Assalamu’alaikum” sapa Rifdah.
Beberapa menit kemudian, “Benarkah?” tanya Rifdah pelan. “Baiklah, nanti saya usahakan pulang kampung jika ada kesempatan” ucapnya lalu menutup telepon.
Bersamaan dengan itu, pipinya mulai beranak sungai. Berita yang tadi didengarnya adalah berita meninggalnya kakeknya. Alhamdulillah, lirihnya dalam hati.
Dia bersyukur karena akhirnya kakeknya juga meninggal dengan tenang, tentunya setelah melepaskan segala macam jimat-jimat yang dulu dipakainya. Rifdah berusaha meyakinkan hatinya bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik. Maka dari itu, dia berusaha tidak menyesali segala yang terjadi walau itu memang berat. Hanya satu tempatnya bersandar, Kekasih sejati manusia. Dia tahu jalan perjuangan yang akan ditempuhnya masih panjang. Satu harapan tipis bergaung dalam hatinya, moga dirinya tetap istiqomah di jalan dakwah.

By: Naflah al-Khalishah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar