Let’s fighting! Go win the gold generation!
Di suatu sore nan bersahaja, namun penuh dengan kehangatan. Berkumpullah kemudian sekelompok bidadari dengan penampilan dan karakter mereka masing-masing yang unik. Di antara manusia-manusia lainnya yang bertebaran di sekitar mereka dengan aktivitas kesibukannya masing-masing. Maklum, mereka kan anak kuliahan yang jadwalnya segudang gitu lho. Entah itu tugas lab, tugas kuliah, kegiatan organisasi, atau ada juga yang hanya sekedar nongkrong nggak jelas demi menghabiskan waktu luang. Lain halnya dengan para bidadari tadi. Aktivitas mereka bukan aktivitas biasa seperti yang lainnya. Padahal di sisi lain, mereka juga masih bagian dari anak kuliahan itu. Mereka juga punya tugas-tugas akademik layaknya mahasiswa pada umumnya. Hanya saja, hal itu bukanlah aktivitas yang menghabiskan waktu mereka, poros hidup mereka bukan terletak pada kesibukan akademik seperti itu.
Mau tahu apa yang dilakukan oleh para bidadari itu? Seperti apa aktivitas mereka? Yup, para bidadari itu memang bukan orang yang biasa-biasa saja. Namun, mereka adalah hamba-hamba pilihan yang luar biasa dengan aktivitasnya yang juga luar biasa dahsyat, aktivitas termulia yang diemban oleh makhluk yang bergelar manusia. Hanya satu kata untuk menggambarkan aktivitas mulia itu. Satu kata yang mungkin sangat mudah diucap oleh lisan kita tapi untuk merealisasikan satu kata itu dalam hidup ternyata tidak semudah mengucapkannya tadi. Satu kata: DAKWAH! Suatu aktivitas menyeru, mengajak kepada yang ma’ruf (baik) dan mencegah kepada yang mungkar (buruk).
Tiba-tiba, ketika para bidadari itu sedang asyik bercengkrama, datanglah salah satu bidadari yang masih merupakan bagian dari kumpulan bidadari itu. Ternyata dia terlambat datang karena baru saja menjalani aktivitas rutinnya sebagai mahasiswa, yaitu kuliah. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba bidadari yang terlambat tadi mengeluarkan sesuatu yang bening dari dua jendela dunianya. Rupanya dia menangis. Otomatis, bidadari yang lain kaget menyaksikannya.
“Ada apa Aridhah?” tanya salah satu diantara mereka.
Aridhah masih juga terisak-isak sambil menutup mukanya dengan tangannya. Teman-temannya saling berpandangan tak mengerti situasi yang terjadi. Selang beberapa belas detik kemudian, Aridhah menurunkan tangannya dari wajahnya. Terlihatlah dengan jelas, air matanya yang tumpah dan matanya yang sudah memerah.
“Kalian harus semangat dalam jalan ini. Kalian jangan pernah menyerah karena apa yang kita bawa ini adalah sesuatu yang benar-benar asing buat masyarakat hari ini. Aku yakin sebentar lagi kemenangan itu akan tiba..” ucapnya diantara isak tangisnya.
Teman-teman Aridhah saling berpandangan dan menunggu pernyataan selanjutnya dari lisan salah satu bidadari itu.
“Aku baru saja dikeluarkan oleh dosenku…” sambung Aridhah kembali.
Kembali teman-temannya saling berpandangan satu sama lain. Ada yang mengangkat bahu, ada yang berkerut keningnya, ada yang marah, dan ada juga yang tersenyum.
“Kenapa?” kembali salah satu diantara mereka bertanya pada Aridhah.
“Ceritanya begini…” Aridhah mulai bercerita.
Flash Back
Setelah selesai sholat Azhar, Aridhah dengan terburu-buru menuju kelasnya. Pikirannya masih sempat melayang mengingat kalau sore ini juga ada rapat di LDK LDM. Tapi karena kuliahnya juga mendesak, akhirnya dia memutuskan ikut kuliah dulu baru ikut rapat. Ketika dia tiba di depan kelasnya, ternyata dosennya sudah duduk dengan tenang di dalam kelasnya. Aridhah pun mengambil napas panjang sebelum akhirnya memutuskan masuk.
“Assalamu’alaikum…” ucapnya lalu melangkah perlahan ke arah dosennya.
“Kenapa terlambat?” tegur dosennya dengan tegas.
“Kamu tahu, kamu itu seharusnya memberikan contoh untuk teman-temanmu. Sudah pakai kerudung besar dan gamis tapi kelakuanmu seperti ini…” sambung dosen Aridhah setengah meledek.
Aridhah menelan ludah. “Maaf Pak, saya tadi pergi sholat azhar dulu. Setelah itu baru kesini..” jelasnya kemudian.
Dosen Aridhah terdiam. “Ya sudah, duduklah segera di bangkumu!” ucapnya kemudian.
Beberapa menit kemudian, dosen itu lalu menjelaskan materi yang dibawakannya hari ini. Ternyata, salah satunya adalah membahas tentang Teori Darwin bahwa manusia itu berasal dari kera. Aridhah yang cara berpikirnya sudah tersentuh dengan pemahaman Islam pun mulai merasakan darahnya agak panas. Dia tidak terima dengan penjelasan dosennya itu. Batinnya bergolak, dia sudah datang terlambat tadi, masa sekarang mau protes lagi? Bisa fatal akibatnya. Tapi, dia tak mampu membendung penolakan hati dan pemikirannya akan teori sesat yang diajarkan dosennya itu pada dirinya dan teman-temannya. Akhirnya, dia pun mengacungkan tangannya untuk interupsi.
“Ada apa?” tanya dosennya,
“Maaf sebelumnya Pak. Bukannya saya mau menentang Bapak, tapi bukankah dalam pelajaran pendidikan agama Islam diajarkan bahwa manusia pertama itu adalah Adam? Lantas, bagaimana bisa Bapak mengajarkan teori yang mengatakan bahwa manusia itu berasal dari kera? Artinya, secara tidak langsung Bapak menyamakan Nabi Adam dengan kera kalau begitu..” terang Aridhah.
Ekspresi wajah dosen Aridhah berubah drastis. “Apa kamu bilang? Kamu berani menentang saya? Bukankah teori ini sudah lama kita pelajari? Ini juga diperoleh dari hasil penelitian. Apa kamu mau bilang saya bodoh?” bentak dosen tersebut.
“Saya tidak mengatakan seperti itu Pak. Tapi bukankah dalam Al-qur’an sudah jelas Allah mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam, yang jelas bukan dari kera. Jadi, seharusnya kita jangan cepat percaya pada teori buatan Barat dari luar Islam yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri..” jelas Aridhah kembali.
“Kamu!!! Kamu…memang sok pintar. Kalau kamu memang tidak setuju dengan apa yang saya ajarkan, terserah kamu. Tapi jangan coba-coba memprovokasi dalam mata kuliah saya disini…” tegur dosen Aridhah dengan lebih keras kali ini.
Aridah tidak bisa menahan lagi penentangan dalam hatinya. Dia tidak ingin materi yang diajarkan dosennya itu ditelan mentah-mentah oleh teman-teman sekelasnya. Akhirnya dia berdiri.
“Teman-teman, apakah kalian setuju apabila kalian dikatakan berasal dari kera?” tanya Aridhah pada teman-temanya.
Hening menyelimuti ruang kelas itu. Udara tak bersahabat mulai berhembus perlahan-lahan menyusup masuk ke dalam sumsum tulang. Aridhah merasakan sesuatu yang tak beres akan menimpa dirinya. Dia melihat teman-temannya rata-rata menunduk dalam-dalam. Ada juga yang tampak mencaci dirinya yang terlalu berani membantah dosen. Aridhah mengalihkan pandangannya pada dosennya. Wajah garang siap menerkam mangsa sudah menyambutnya.
“KAMU…KELUAR SEKARANG DARI KELAS SAYA!!!” hardik dosennya.
Aridhah menghela napas sebelum akhirnya dia mengambil tasnya dan melangkahkan kaki keluar dari ruang tempatnya menuntut ilmu itu. Sementara itu, tetesan bening sudah menggenang di pelupuk matanya.
Flash Back End
Aridhah mengakhiri ceritanya sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya ke depannya terkait mata kuliah dosen yang mengusirnya keluar ruangan itu.
Sementara itu, sahabat-sahabatnya mulai mendekati Aridhah. Respon mereka bermacam-macam. Ada yang marah karena menganggap dosen Aridhah keterlaluan dengan mengusir mahasiswa yang berusaha menyampaikan kebenaran padanya. Ada juga yang hanya diam membayangkan dirinya jika berada di posisi seperti Aridhah. Tapi ada juga yang tersenyum karena mereka tahu betul bahwa inilah salah satu asam manis perjuangan yang mereka emban.
Khayyirah, sebagai pemimpin para bidadari di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa, LDK LDM di Universitas Muslim Indonesia di kota Makassar itu, mengambil alih suasana.
“Inilah memang salah satu warna dari perjuangan kita kawan-kawan. Apa yang kita bawa, Islam memang adalah agama yang mereka bawa bawa sejak lahir, tapi hari ini justru mereka terasing dengan agama mereka sendiri. Tapi itu bukan hambatan buat kita tentunya untuk mundur dari jalan dakwah ini. Kisah teman kita, Aridhah sudah seharusnya menginspirasi kita bahwa perjuangan ini memang tidak mudah, penuh dengan konsekuensi tapi kita harus yakin bahwa semakin terjal aral rintangan dalam perjuangan, maka artinya kemenangan itu akan semakin dekat, insyaAllah. Jadi, sekarang memang sudah seharusnya kita bergerak lebih gencar lagi. Ratakan kampus ini dengan ide Syariah dan Khilafah yang kita bawa. TAKBIR!” ucapnya.
“ALLAHU AKBAR!!!” koor bidadari-bidadari yang lain serempak sebelum mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.
Mereka, para bidadari itu tak akan pernah berhenti berjuang sampai cita-cita yang mereka emban dapat mereka wujudkan. Sampai janji Allah dan Rasul-Nya menjadi kenyataan.
Mereka tahu, bahwa ke depannya perjuangan mereka akan lebih sulit lagi. Apalagi setelah UU Intelejen kemarin telah disahkan, membuat mereka nantinya yang memperjuangkan tegaknya kembali syariah Islam akan dituduh teroris yang akan membahayakan keamanan Negara. Tapi mereka, para pejuang Islam itu sungguh tak bisa menutup mata akan penderitaan umat yang menari-nari di depan mata mereka. Umat yang mati kelaparan karena kemiskinan, anak-anak yang tak bisa sekolah karena biaya pendidikan yang tak terjangkau kantong-kantong mereka, banyaknya orang sakit yang meninggal begitu saja karena rumah sakit yang jadi pasar komersial, dll. Bahkan bukan hanya umat Islam yang menderita tapi bahkan juga kaum kafir. Peristiwa Wall Street kemarin sudah cukup untuk menggambarkan bahwa penerapan system Kapitalisme hari ini sangat menyengsarakan semua umat manusia. Sekularisme yang merupakan asasnya memang sangat fatal karena memisahkan peran agama dalam mengatur masalah kehidupan. Akhirnya, semua bidang kehidupan hari ini diserahkan kepada manusia untuk membuat aturannya.
Padahal, Islam yang diturunkan oleh Sang Kekasih sejati manusia telah memiliki aturan yang sempurna dan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia. Hanya sayangnya, hari ini aturan itu, Syariah Islam yang seharusnya diemban oleh Negara adidaya Khilafah Islamiyah telah dicampakkan.
Inilah yang diperjuangkan oleh para bidadari itu. Mereka sadar betul bahwa Islam adalah cahaya. Ibaratnya mereka hari ini sedang mengejar matahari. Matahari yang mampu menerangi seluruh alam semesta dan menghapuskan kuasa kegelapan yang selama ini menyelimuti dari segenap penjuru dunia. Walau itu sulit dan berat; bahkan harta, tenaga, pikiran, dana, juga jiwa pun telah banyak yang gugur demi perjuangan mengembalikan matahari itu. Namun, mereka para pejuang itu sangat sadar bahwa janji Allah tak pernah salah, bahwa Islam akan kembali berkuasa, bahwa matahari itu akan kembali menerangi mereka dan seluruh umat manusia di muka bumi ini dengan sinarnya yang hangat dan terang benderang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar